JAKARTA, CEKLISSATU.COM – Pemerintah Amerika Serikat (AS) meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman wabah Ebola setelah muncul kasus infeksi virus varian Bundibugyo.
Inkubasi wabah Ebola kembali merebak setelah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyatakan terdapat satu warga AS terinfeksi virus dari genus Ebolavirus pada 18 Mei 2026.
Sontak membuat Presiden Trump mengkhawatirkan kasus pertama muncul setelah beberapa waktu tidak ditemukan inkubasi serupa di Amerika.
Baca Juga: Wabah Hantavirus Gegerkan Dunia, WHO Ungkap Risiko Kematian Capai 50 Persen
“Saya khawatir terhadap semuanya, dan tentu saja terhadap hal ini,” ujar Trump, dikutip dari Anadolu, Selasa (19/5/2026).
Ia menambahkan, bahwa wabah Ebola tersebut untuk saat ini masih minim di Afrika, walaupun sukses mengalami penyebaran terbatas.
Untuk menanggulangi wabah tersebut beberapa pengerahan telah dilakukan pemerintahan Amerika Serikat untuk menekan laju penyebaran.
Baca Juga: Cegah Penyebaran Virus HMPV, Dinkes Kota Bogor Tingkatkan Pengawasan SKDR
Heidi Overton, pejabat senior Gedung Putih bidang kebijakan domestik, mengatakan pemerintah Amerika Serikat telah membentuk tim lintas lembaga untuk menangani dan mengontrol wabah tersebut.
“Virus Ebola varian Bundibugyo menyerang salah satu korban dan kini sedang diterbangkan ke Jerman untuk menjalani perawatan,” ujarnya.
Untuk itu, pemerintahan segera melakukan pembatasan akses masuk bagi warga non-Amerika yang dalam kurung 21 hari terakhir pernah melakukan penerbangan ke Uganda, Republik Kongo, Kongo, dan Sudan Selatan.
Baca Juga: Tanggapi Soal HMPV di Indonesia, Menkes Sebut HMPV Beda dengan Covid-19 dan Tidak Membahayakan
Walaupun demikian, Overton Dewan Kebijakan Domestik Gedung Putih menegaskan belum ada kasus Ebola yang terdeteksi di wilayah Amerika Serikat.
Pejabat kesehatan hingga saat ini menyebut belum memiliki vaksin maupun pengobatan khusus untuk virus Ebola varian Bundibugyo.
Sementara itu, Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC) menyatakan tengah berkoordinasi dengan otoritas regional dan mitra internasional untuk menekan penyebaran antar lintas.
MG/Ade Pramitha
Comment