JAKARTA, CEKLISSATU – Komisi nasional Perempuan atau Komnas Perempuan memberikan apresiasi kepada Kementerian Agama (Kemenag) untuk komitmen dalam mencegah dan penanganan kekerasan seksual.
Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua Komnas Perempuan Olivia Ch Salampessy saat beraudiensi dengan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas di Kantor Kementerian Agama, Jalan Lapangan Banteng Barat No. 3-4, Jakarta Pusat.
““Kementerian Agama terdepan dalam komitmen dan memberikan perhatian khusus terhadap pencegahan dan penanganan kekerasan seksual. Ini patut kami apresiasi, sebab banyak Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang lebih dahulu memiliki SOP (standard operating procedure) pencegahan kekerasan seksual daripada perguruan tinggi umum,” kata Olivia, seperti dikutip dari laman resmi Kemenag, Kamis 3 Agustus 2023.
Baca Juga : Soroti Kekerasan Seksual di Pondok Pesantren, Wapes : Tindak Tegas!
Sementara itu, komisioner Komnas Perempuan Alimatul Qibtiyah mengatakan, sudah banyak hal yang dilakukan Kemenag untuk menciptakan kondisi yang kondusif dan pemenuhan hak-hak perempuan.
Seperti Program kawasan bebas kekerasan di perguruan tinggi keagamaan merupakan program prioritas nasional. Berawal dari SK Dirjen Pendis No 5494 tahun 2019 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual, dilanjutkan dengan PMA No 73 tahun 2022, KMA No 83 tahun 2023.
“Semuanya menunjukkan komitmen dari Kementerian Agama untuk mewujudkan kawasan bebas kekerasan di lembaga pendidikan sangat bagus dan penting. Dan ini harus kita kawal bersama,” ujar Alimatul.
Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil mengatakan, Kemenag ini dikenal dengan kementerian yang sangat maskulin, dimana, Perempuan jarang memiliki kesempatan yang sama sebagaimana laki-laki memiliki kesempatan di Kementerian Agama.
"Jadi problem ini tidak hanya di lembaga pendidikan seperti perguruan tinggi, pesantren dan madrasah melainkan juga di lingkungan Kantor Kementerian Agama. Saya buat terobosan yang bagi orang lain kecil namun menjadi gambaran bagaimana Kemenag berkomitmen terhadap kesetaraan gender dan perlindungan terhadap perempuan," ujar Yaqut.
"Sepanjang sejarah Kementerian Agama baru kali ini ada juru bicara perempuan. Dalam sejarah perhajian baru tahun ini ada Amirul Hajj perempuan karena ini adalah komitmen dan keberpihakan kami terhadap kesetaraan gender begitu juga dengan rektor, kanwil dan kakankemenag," imbuh Yaqut.
Comment