ANKARA, CEKLISSATU - Turki dikabarkan berencana keluar dari Pakta Pertahanan Negara Atlantik Utara (NATO). Padahal Ankara telah menjadi anggota NATO selama 71 tahun.

Wakil Ketua Partai Tanah Air Turki, Ethem Sancak, mengungkapkan alasan Ankara berencana meninggalkan aliansi pertahanan terbesar di dunia itu dalam lima sampai enam bulan ke depan. 

Menurutnya tekanan yang kuat antara Turki-NATO dan beberapa negara Eropa belakangan ini menjadi pertimbangan Ankara keluar dari aliansi.

"NATO memaksa kami bertindak melalui provokasi-provokasinya. Mereka (NATO) mencoba mengadu domba kami dengan tetangga kami Yunani," kata Sancak dalam wawancara bersama surat kabar Aydinlik dikutip kantor berita Rusia, TASS, Rabu 25 Januari 2023.

Tak hanya itu, Sancak menuding NATO sempat berupaya membuat Turki terperangkap dalam peperangan di Timur Tengah. Pernyataan Sancak merujuk pada perang sipil di Suriah.

"Dan akhir-akhir ini, Anda semua bisa melihat kampanye anti-Al Quran di Swedia dan Belanda," ucapnya.

"Perkembangan-perkembangan ini mendorong kami mengambil langkah-langka seperti ini," tambahnya.

Belakangan sentimen terhadap NATO juga memang meningkat di Turki. Pada 19 Januari lalu, Partai Patriotik Turki mengkampanyekan mendesak pemerintah Presiden Recep Tayyip Erdogan meninggalkan NATO.

Kelompok anti-Amerika di Turki juga berulang kali meminta Ankara menutup pangkalan militer Negeri Paman Sam di negara itu, membatalkan kontrak pembelian jet F-16, dan menarik diri dari NATO.

Rumor Turki ingin hengkang dari NATO ini berlangsung ketika Ankara menjadi buah pembicaraan negara-negara anggota lantaran menolak Swedia dan Finlandia yang ingin masuk aliansi itu.

Keinginan Swedia dan Finlandia mendaftar masuk NATO muncul setelah Rusia melancarkan invasi ke Ukraina sejak Februari 2022.

Erdogan menolak Swedia dan Finlandia masuk NATO lantaran menilai kedua negara masih mendukung kelompok yang dianggap Turki "organisasi teroris" seperti Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

Erdogan bahkan menuntut kedua negara itu merepatriasi aktivis PKK jika ingin mendapat restu Turki untuk masuk NATO.

Namun, restu Erdogan bagi Swedia semakin pudar setelah insiden pembakaran Al Quran oleh salah satu politikusnya dalam demonstrasi anti-Islam di depan Kedubes Turki di Stockholm akhir pekan lalu.

Erdogan memperingatkan Swedia agar tidak berharap mendapat dukungannya untuk bergabung dengan NATO akibat kejadian itu.

"Swedia seharusnya tidak mengharapkan dukungan kami untuk NATO," kata Erdogan dalam tanggapan resmi pertamanya terhadap tindakan politisi anti-Islam selama protes pada Sabtu 21 Januari. 

"Jelas mereka yang menyebabkan aib seperti itu di depan kedutaan besar negara kami tidak lagi dapat mengharapkan kebaikan dari kami atas permohonan mereka untuk menjadi anggota NATO," kata Erdogan seperti diberitakan AFP.