Dalam kondisi demikian, praktik penebangan hutan, alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan (seperti kelapa sawit atau karet), serta eksploitasi di wilayah hulu menyebabkan menurunnya kapasitas tanah dan vegetasi untuk menyerap air hujan. 

Akibatnya, semakin banyak air yang mengalir langsung di permukaan dan meningkatkan potensi terjadinya banjir serta aliran permukaan yang cepat.

Baca Juga: Sepanjang 2025 BPBD Catat 1.652 Bencana di Kabupaten Bogor, 24 Kecamatan Masuk Zona Rawan

Sunatullah menggerakkan alam apa adanya dan seharusnya manusia memahaminya sebagaimana mestinya. Inilah paradigma yang harus terbangun. Alam yang apa adanya itu harus dipelajari dan dipahami agar manusia bisa menyesuaikan diri dengan dinamikanya, bukan hanya paham, namun ia pun dituntut untuk sadar diri agar setiap pilihan dan Langkah yang diambil bisa disesuaikan dengan karakter alam yang disinggahinya. 

Dalam hal ini, tidak ada bencana yang bisa membunuh manusia, yang ada adalah cara manusia merespon dinamika alam ini yang salah dan keliru hingga bisa merenggut nyawa manusia. Gempa bumi tidak akan membunuh manusia, yang ada Gedung Gedung atau infrastruktur itu yang menyebabkan terjadinya kematian.   

Salah seorang tokoh yang paling bertanggung jawab dalam membangun metode ilmiah modern, yaitu Francis Bacon (1561–1626). 

Baca Juga: Sebut Potensi Bencana di Jabar Tinggi, Dedi Mulyadi Tegaskan Larangan Penebangan Pohon dan Penambangan

Bacon berpendapat bahwa seorang ilmuwan harus menempatkan alam di hadapannya, menginterogasi alam dengan tegas, seolah-olah ia seorang polisi yang memaksa tersangka untuk mengungkapkan rahasianya. Dari sinilah awal revolusi ilmiah terjadi.