Jika kita menelisik lebih dalam mengenai kriteria teknis dalam seleksi Direksi BUMD (khususnya untuk jabatan Direktur Bisnis dan Pelayanan), terdapat tiga pilar utama yang biasanya menjadi batu ujian bagi Muzakkir maupun Sonny Salimi. Contohnya, pada sesi Uji Kelayakan dan Kepatutan (Fit and Proper Test)

Pada tahap ini, tim penguji yang kabarnya dari unsur akademisi, praktisi, dan birokrat akan membedah makalah visi dan misi. 

Sonny Salimi akan ditantang untuk menunjukkan terobosan apa yang belum ia lakukan di periode saat ia memimpin PDAM Kota Bandung. Penguji akan mencari tahu apakah ia membawa solusi baru atau hanya sekadar melanjutkan pola lama. Lalu, Muzakkir kemungkinan akan diuji sejauh mana ia memahami Non-Revenue Water (NRW) atau tingkat kebocoran air, karena ini adalah kerugian bisnis utama di Perumda Tirta Pakuan. 

Baca Juga: Pemkot Bogor Buka Seleksi Terbuka Calon Tiga Direksi Perumda Tirta Pakuan

Seorang Direktur Bisnis dan Pelayanan harus mampu menjawab sejumlah tantangan. Salah satunya memiliki kemampuan diplomasi stakeholder. Perlu diingat, Perumda Tirta Pakuan melayani kebutuhan dasar masyarakat, sehingga direktur terpilih harus mampu menghadapi dua sisi.

Sisi komersial yaitu menjaga margin keuntungan agar perusahaan tetap sehat dan memberikan PAD (Pendapatan Asli Daerah) ke Pemkot Bogor. Dan sisi Sosial, menghadapi resistensi masyarakat jika ada penyesuaian tarif atau gangguan distribusi air.

Jika proses seleksi ini mengedepankan profesionalisme murni, maka rekam jejak (portofolio) keberhasilan di jabatan sebelumnya akan menjadi penentu.  Jadi, kita tunggu saja bagaimana nilai dua mantan dirut ini di serangkaian tes. Ditambah, apa ‘selera’ Dedie Rachim untuk mengisi posisi Direktur Bisnis dan Pelayanan ini.