Sebaliknya, keilmuan tanpa kecintaan pada bangsa bisa menjelma menjadi intelektualisme yang kering dan tidak membumi.
Maka, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu melahirkan manusia-manusia yang sekaligus menjadi Singa Perbangsa dan Singa Dilaya. Pejuang yang berilmu, dan cendekia yang mencintai bangsanya.
Di era modern yang serba cepat dan individualistik, kita ditantang untuk kembali menggali makna terdalam dari kebangsaan dan keilmuan.
Menjadi Singa Perbangsa berarti menjaga warisan leluhur, menjadi tembok pelindung kedaulatan, dan penggerak peradaban.
Menjadi Singa Dilaya berarti menjadikan ilmu sebagai jalan kesadaran, bukan sekadar alat pencapaian duniawi.
Karena pada akhirnya, kejayaan bangsa tidak lahir dari kekuatan materi semata, tetapi dari pribadi-pribadi yang hidup dalam kedalaman makna.
Mereka yang menjaga tanah air dengan hati, dan menerangi jalan kebangsaan dengan cahaya ilmu.
Penulis: Ra Dien, Sekretaris Jaringan Kebudayaan Rakyat Bogor.