Sementara itu, Singa Dilaya adalah mereka yang memegang teguh ilmu adi luhung, ilmu yang tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga memuliakan jiwa.

Baca Juga: Area Parkir Terbatas, DPKPP Kabupaten Bogor Minta Warga Bijak Saat Kunjungi Monumen Helikopter Puma

Ilmu yang tidak dipakai untuk menaklukkan, tetapi untuk melayani, bukan untuk meninggikan ego, tetapi untuk merendahkan hati di hadapan kebenaran semesta.

Singa Dilaya adalah para bijak bestari, para guru, para pemikir, dan para pencari makna yang menjunjung tinggi kemuliaan nilai-nilai universal.

Mereka memahami bahwa ilmu sejati adalah cahaya yang membebaskan manusia dari kegelapan kebodohan dan keserakahan.

Dalam tradisi Timur, mereka adalah para “pandita”, para “resi”, yang membimbing bukan dengan paksaan, tetapi dengan keteladanan dan keheningan.

Baca Juga: Tanam 2.000 Pohon di Gunung Salak Kabupaten Bogor, KTH Alam Kiwari Lestari Ajak Pemuda Lestarikan Alam

Dalam harmoni, Singa Perbangsa dan Singa Dilaya seharusnya tidak dipisahkan. Jiwa kebangsaan yang tulus tanpa ditopang oleh kebijaksanaan bisa menjadi fanatisme yang buta.