“Keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya diukur dari teknologi itu sendiri, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dalam memanfaatkannya," terangnya.
"Sehingga, kami tidak hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga berupaya memberdayakan masyarakat agar lebih tanggap terhadap bencana dengan mengoperasikan EWAS ini,” tambah Supriyanto.
Pendampingan kolaboratif yang dilakukan mencakup pengembangan ide teknologi, perancangan program pemberdayaan masyarakat, penyusunan proposal, perencanaan keuangan, pemenuhan luaran kegiatan, hingga penguatan jejaring kerja sama dengan berbagai mitra.
Dekan Fakultas Kesehatan UKIM Ambon, Ns. Dene F. Sumah menilai, sinergi antar-perguruan tinggi menjadi kunci dalam menghadirkan inovasi yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Baca Juga: Perkumpulan Perwira TNI/Polri Putra Sumut Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana Sumatera
“Kolaborasi ini sangat berarti bagi penguatan kesiapsiagaan dan keselamatan masyarakat pesisir,” ujarnya.
Kehadiran EWAS di Negeri Waai dan Pulau Nusalaut menjadi langkah konkret FMIPA UI dan UKIM dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan gempa.
Dari kampus ke pesisir, teknologi hadir sebagai bagian dari upaya membangun ketangguhan bersama.