BOGOR, CEKLISSATU - Menteri Lingkungan Hidup, M. Jumhur Hidayat, menegaskan pentingnya gerakan penanaman mangrove sebagai langkah strategis menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat pesisir.

Menurut Jumhur, Indonesia memiliki sekitar 3,4 juta hektare kawasan mangrove. Namun, dari jumlah tersebut, sekitar 700 ribu hektare mengalami kerusakan dan membutuhkan rehabilitasi serius. Karena itu, pemerintah terus mendorong gerakan penanaman kembali mangrove di berbagai wilayah.

“Pada 26 Juli nanti memang diperingati sebagai Hari Mangrove Nasional. Tapi sebenarnya itu hanya pengingat saja, karena gerakan menanam mangrove sudah berlangsung di mana-mana dan terus kita dorong,” ujar Jumhur saat Gerakan Menanam Bambu Nusantara 2026, di Perumahan Bumi Cibinong Endah, Sukahati, Cibinong, Kabupaten Bogor, Minggu (14/6/2026).

Baca Juga: Menteri LH Canangkan Gerakan Nasional Tanam Bambu, Target Jutaan Bibit dari Sabang sampai Merauke

Ia menjelaskan, mangrove memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap karbon dioksida. Bahkan, daya serap karbon mangrove disebut mampu mencapai empat kali lipat dibanding tanaman biasa, sehingga menjadi salah satu solusi penting dalam menghadapi perubahan iklim.

Tak hanya berfungsi sebagai pelindung ekosistem pesisir, kawasan mangrove juga dinilai mampu menjadi sumber penghidupan masyarakat. Mangrove yang terjaga dengan baik dapat mendukung berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari perikanan, budidaya kepiting, hingga pengembangan wisata dan produk olahan berbasis lingkungan.

Mangrove itu selain menyerap karbon juga bisa menjadi sumber livelihood bagi masyarakat. Kalau mangrovenya bagus, banyak sekali kegiatan ekonomi yang bisa dilakukan di sana,” katanya.