KABUPATEN BOGOR, CEKLISSATU.COM -- Universitas Indonesia (UI) selaku Ketua U25 (Forum Rektor PTN-BH) memimpin U25 Leaders Forum yang diselenggarakan di IPB University, pada Kamis (22/1/2026) lalu.
Forum ini menjadi ruang konsolidasi para pimpinan 24 PTN-BH untuk menyelaraskan arah kebijakan pendidikan tinggi, riset, dan inovasi nasional, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi bagi pembangunan sumber daya manusia dan daya saing bangsa.
Rektor UI, Prof. Heri Hermansyah yang ditetapkan sebagai Ketua U25 menegaskan, kerja PTN-BH harus bergerak dari sekadar capaian administratif menuju dampak nyata.
Baca Juga: Mahasiswa Esa Unggul Pamerkan Kreativitas dan Inovasi dalam Festival Project Mata Kuliah Universitas
Ia menekankan pentingnya peran rektor sebagai “CEO” perguruan tinggi guna memastikan efisiensi belanja dan peran universitas dalam mengapitalisasi aset yang dimiliki guna memperkuat pendapatan.
“Upaya ini dilakukan untuk menjaga peningkatan kualitas pendidikan, meningkatkan quality of life sivitas akademika, sekaligus menghadirkan dampak bagi pertumbuhan ekonomi bangsa," ungkap Prof Heri dalam keterangan resminya.
"Untuk itu, kolaborasi lintas PTN-BH diperlukan tidak hanya dalam kerja sama akademik konvensional, tetapi juga peluang usaha bersama yang dapat memperkuat kemandirian dan ketahanan finansial universitas,” tambah Prof. Heri.
Baca Juga: Prodi Sains Komunikasi FISIP UNIDA Asah Keterampilan Desain Komunikasi Grafis Mahasiswa Melalui Program Praktisi Mengajar
Sejalan dengan arahan tersebut, forum konsolidasi menempatkan penguatan tata kelola organisasi sebagai prioritas.
Agenda utama forum meliputi pembentukan struktur organisasi, penetapan isu-isu yang akan diperjuangkan bersama, pembentukan Pokja, serta penguatan perangkat kerja U25.
Kesepakatan ini mempertegas mandat Oktober 2025 agar U25 bergerak lebih operasional melalui perangkat organisasi yang jelas dan siap bekerja.
Baca Juga: Gerakan UI Mengajar Angkatan 15 Lanjutkan Misi Penguatan Pembelajaran dan Pendidikan di Cirebon
Maka itu, forum menyepakati struktur organisasi U25 yang terdiri atas Ketua (UI), Wakil Ketua (Universitas Sumatera Utara dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember), Sekretaris Jenderal (Universitas Hasanuddin), serta Wakil Sekretaris Jenderal (Universitas Brawijaya dan Universitas Syiah Kuala), dengan pimpinan forum Prof. Heri Hermansyah.
Forum juga menyepakati pembentukan lima Kelompok Kerja (Pokja) sebagai mesin kerja strategis U25 yang meliputi World Class University (WCU), Dana Abadi, Komersialisasi Aset dan Joint Venture, Tata Kelola Keuangan, serta Sumber Daya Manusia (SDM) PTN-BH.
Kelima Pokja ini diarahkan untuk membahas advokasi dan regulasi di bidang masing-masing yang terintegrasi dengan forum-forum lain.
Baca Juga: Kolaboraksi Gandeng Anak Istimewa, Fun Run Inklusif Kolaborun 2026 Siap Digelar di Pakansari
Susunan koordinator dan anggota Pokja tersebut adalah Pokja WCU (UGM, UPI, UNSRI, UNDIP); Pokja Dana Abadi (ITB, UNESA, UT); Pokja Komersialisasi Aset & Joint Venture (IPB, UNP, UNJ, UM); Pokja Tata Kelola Keuangan (UNAIR, UNAND, UNS, UNY); serta Pokja SDM PTN-BH (UNPAD, UIII, UNNES).
Dalam forum tersebut, Prof. I. Gede Wenten menegaskan perlunya menafsir ulang “world class” agar tidak berhenti pada peringkat global, tetapi menjadi universitas yang relevan terhadap kebutuhan bangsa, berdaulat dalam agenda keilmuan, dan berdampak bagi ekonomi, sosial, serta lingkungan—sebagai nation builder.
Ia menekankan pentingnya capaian internasional yang diiringi keberanian untuk mengembangkan keunggulan khas Indonesia.
Baca Juga: Mayoritas Atlet PPOPM Siap Perkuat Kabupaten Bogor di Porprov Jabar 2026
Menurutnya, perguruan tinggi harus mampu menjembatani riset dasar dengan pemanfaatan inovasi, hilirisasi pengetahuan, serta kolaborasi erat dengan pemerintah, industri, dan masyarakat.
"Melalui pendekatan ini, konsep world class tidak lagi bersifat simbolik, tetapi menjadi strategi berkelanjutan untuk memperkuat kemandirian bangsa dan meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global," terangnya.
Sementara itu, Kepala BRIN, Prof. Arif Satria menyebut, penguatan ekosistem riset dan inovasi nasional—termasuk dorongan “Rumah Inovasi Indonesia” sebagai ekosistem terintegrasi (etalase, hub kolaborasi, dan one stop service)—dapat mendorong pemanfaatan riset bagi UMKM/startup, industri/BUMN strategis, hingga percepatan akuisisi teknologi global.
Baca Juga: FISIP UNIDA Kembali Berprestasi, Dua Mahasiswa Sabet Juara Satu Pencak Silat UIKA Championship 2025 Tingkat Nasional
Keberhasilan ekosistem riset ditentukan oleh kualitas penelitian serta tata kelola kolaborasi yang efektif dan keberpihakan regulasi.
"Perguruan tinggi harus berperan aktif sebagai simpul utama inovasi, baik melalui penguatan pusat unggulan riset, peningkatan kapasitas komersialisasi teknologi, maupun kemitraan strategis," tuturnya.
"Sinergi ini mampu mempercepat hilirisasi riset, meningkatkan nilai tambah ekonomi, serta memperkuat daya saing nasional berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi," tambahnya.
Baca Juga: Mahasiswa BEM FT Undip Bawa Teknologi Tepat Guna untuk Petani Gula Aren Desa Sriwulan
Tak hanya itu, Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali juga menyoroti pentingnya diversifikasi pendanaan guna memperkuat kemandirian kampus dan mendorong dampak Tridharma yang lebih nyata, yang harus ditopang tata kelola profesional, check-and-balance, transparansi digital, serta kepemimpinan transformasional.
Berbagai pandangan tersebut menegaskan bahwa penguatan perguruan tinggi memerlukan orkestrasi kebijakan, tata kelola, dan kolaborasi yang terintegrasi.
Kesamaan pemikiran ini menunjukkan perlunya wadah bersama yang mampu menerjemahkan visi, rekomendasi kebijakan, dan agenda reformasi pendidikan tinggi ke dalam langkah-langkah operasional yang terukur dan berkelanjutan.
Comment