KOTA DEPOK, CEKLISSATU.COM -- Hari Raya Idulfitri selalu hadir dengan suasana yang hangat dan penuh kebersamaan. Setelah sebulan menjalani puasa di bulan Ramadan, Lebaran menjadi momen yang dinanti untuk berkumpul bersama keluarga dan sahabat. 

Pintu rumah terbuka, tamu datang silih berganti, dan meja makan pun dipenuhi berbagai hidangan istimewa yang menggugah selera.

Tradisi menyuguhkan makanan terbaik bagi tamu bukan sekadar soal hidangan, tetapi juga menjadi simbol keramahan dan penghormatan. Aroma opor ayam yang gurih berpadu dengan ketupat hangat, rendang yang kaya rempah, hingga aneka kue manis yang tersaji di ruang tamu.  

Baca Juga: Hilal Belum Penuhi Kriteria MABIMS, Idulfitri 1 Syawal 1447 H Diperkirakan Jatuh 21 Maret

Tidak heran jika dalam suasana silaturahmi yang hangat, seseorang bisa mencicipi berbagai makanan di beberapa rumah sekaligus dalam satu hari.

Namun, di balik kenikmatan itu, ada satu hal yang sering luput dari perhatian, yakni kebiasaan makan berlebihan. Bagi sebagian orang, Lebaran dianggap sebagai waktu untuk “membalas” keinginan makan setelah sebulan berpuasa. 

Tanpa disadari, porsi makan menjadi jauh lebih banyak dari biasanya, terlebih ketika hidangan yang tersedia cenderung tinggi lemak, gula, dan kalori.

Baca Juga: Lebaran Tetap Bersih, DLH Bandung Turunkan 211 Personel di Titik Strategis Kota

Menurut Guru Besar Departemen Gizi UI, Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, M.P.H., kebiasaan makan berlebihan saat Lebaran jika tidak dikendalikan dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. 

Konsumsi makanan berlemak dan bersantan dalam jumlah besar membuat sistem pencernaan bekerja lebih berat sehingga dapat menimbulkan keluhan seperti perut kembung, mual, sakit perut, hingga diare atau sembelit.