Football Institute Kritik Komdis PSSI Terkait Denda dan Hukuman Terhadap Klub


JAKARTA, CEKLISSATU - Football Institute merilis hasil riset mereka soal uji kualitas Liga 1, Liga 2, dan Elite Pro Academy (EPA), berbasis pelanggaran disiplin dan hasil putusan Sidang Komisi Disiplin (Komdis) PSSI. Berdasar riset mereka itu, Komdis PSSI mendapat sorotan.

Dalam acara rilis riset itu, Founder Football Institute Budi Setiawan didampingi Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Arya Sinulingga, pengamat Effendi Gazali, serta mantan Ketua The Jakmania Ferry Indrasjarief, dan wartawan senior Erwin Fitriansyah. Acara dihelat di Barito Mansion, Jakarta Selatan, Selasa (9/7).

Riset digelar Football Institute bersamaan selama periode Liga 1, Liga 2, dan EPA, musim 2023/24. Mereka melakukan riset sejak Juli 2023 hingga Mei 2024. Data berasal dari putusan Komdis PSSI juga data kartu kuning dan merah selama periode itu.

Misal, di kompetisi Liga 2, dalam laga PSCS Cilacap dan Persekat Tegal, Komdis PSSI pernah memberikan hukuman larangan dua kali menjadi ballboy dan denda Rp 37.500.000 kepada Hexa Try Kusuma.

Kemudian, masih di Liga 2, Komdis PSSI menghukum klub PSDS Deli Serdang dengan hukuman larangan pertandingan tanpa penonton satu kali dan denda Rp 225 juta, karena kombinasi kasus rasisme yang dilakukan penonton dan lemparan botol ke dalam lapangan.

Nilai denda itu jauh lebih besar dari denda pelanggaran suporter masuk lapangan dengan angka denda Rp 15 juta dan/atau kasus pelemparan botol dari tribune ke lapangan dengan angka denda sebesar Rp 10 juta.

Terkait banyaknya sanksi denda dari Komdis PSSI, wartawan senior Erwin Fitriansyah berharap, temuan Football Institute bisa sampai ke Komdis dan jadi masukan. Sebab, hukuman denda tidak memberikan efek jera.

”Hukuman denda ini tidak efektif, ya, karena terulang terus, daripada didenda terus, karena klub itu tidak peduli baik yang paling banyak duitnya maupun semenjana. Suporternya juga tidak aware klubnya kena denda,” kata Erwin.