SUKABUMI, CEKLISSATU – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Barat atau BPBD Jabar menyebut, bencana Sukabumi-Cianjur pada Rabu 4 Desember 2024 lalu merupakan yang terparah dalam 10 tahun terakhir.

Bencana Sukabumi-Cianjur kemarin itu menyebabkan banjir, longsor dan pergerakan tanah yang membuat ribuan warga harus mengungsi, serta adanya gangguan komunikasi dan listrik di sejumlah wilayah.

5 orang meninggal akibat bencana Sukabumi-Cianjur, yang tersebar di Kecamatan Simpenan dan Ciemas. Selain itu, empat orang dilaporkan hilang di Simpenan, Gegerbitung, Tegal Buleud, dan Pabuaran.

Baca Juga : Peduli Bencana Sukabumi, Pemkot Bogor Kirim Bantuan dan 10 Personel BPBD

Kemudian sebanyak 1.487 KK atau 3.497 jiwa terdampak, 389 KKatau 1.400 jiwa mengungsi, rumah rusak sebanyak 589 unit. Kondisi diperburuk dengan akses jalan dan jembatan yang putus sehingga alat berat sulit masuk ke lokasi bencana.

Di Cianjur, bencana melanda 15 kecamatan, termasuk Kadupandak, Takokak, Agrabinta, dan Campaka. Data sementara mencatat 185 rumah rusak, 381 rumah terendam, dan 75 rumah terancam.

Sebanyak dua orang meninggal dunia dan satu orang luka-luka. Lebih dari 1.375 jiwa terdampak, dengan 31 jalan di wilayah tersebut mengalami kerusakan.

Baca Juga : Pastikan Stabilitas Harga Jelang Nataru, Sekda Kabupaten Bogor Tinjau Giat Operasi Pasar Bersubsidi

Pit Kepala BPBD Jabar Anne Heramdianne menyatakan, prioritas saat ini adalah membuka akses menuju wilayah terdampak agar evakuasi dan distribusi bantuan dapat segera dilakukan.

“Saat ini kita fokus untuk pendataan pengungsi, dan mengupayakan logistik untuk konsumsi bisa masuk ke daerah pengungsi. Seperti di daerah Simpenan yang terputus,” kata Anne, Jumat 6 Desember 2024.

Selain itu juga, tambah Anne, pihaknya mengupayakan membawa logsitik menggunakan perahu, bekerja sama dengan relawan, BPBD, kabupaten kota, TNI dan Polri.

Baca Juga : Sejumlah Wilayah di Kabupaten Sukabumi Diterjang Banjir, Petugas Gabungan Evakuasi Warga Terdampak

Anne menyebut, putusnya akses komunikasi dan listrik di lokasi bencana Sukabumi-Cianjur membuat pihaknya belum mendapatkan data yang sangat akurat.

Dia juga menyebut, bencana terparah dalam 10 tahun terakhir itu juga harus membuat kita kembali introspeksi.

“Betul, kenapa? Karena sudah banyak alih fungsi lahan terutama kita kembali introspeksi diri apakah kita menjaga alam, apakah kita mengubah alam kita ini menjadi katakanlah kegiatan ekonomis yang justru mengubah alam tersebut,” katanya.

Baca Juga : Target Tinggi Untuk Luis Estrella, FFI Yakin Timnas Futsal Putri Tembus Semifinal AFC Women's Futsal ASIAN Cup 2025

Atas kondisi tersebut, pihaknya mengimbau agar masyarakat waspada atas cuaca, terutama di daerah selatan Jawa Barat yang terancam bencana banjir, longsor dan cuaca ekstrem.