BOGOR, CEKLISSATU - Ditengah keterbatasan akses informasi dan digitalisasi layanan publik di wilayah-wilayah pinggiran  Kabupaten Bogor, seorang pemuda dari Desa Cilaku  justru melahirkan solusi berbasis teknologi yang tak hanya menjawab masalah, tapi juga memberdayakan.  Muhaimin merupakan pencipta dari aplikasi Clarias Nusantara.

Inovasi ini lahir dari sebuah keluhan dari masyarakat untuk perkembangan zaman yang saat ini arus gitilisasi yang semakin masif di masyarakat. Sementara sengan aplikasi tersebut, masyarakat yang sebelumnya kesulitan menjangkau layanan transportasi dan distribusi kini bisa menikmati efisiensi mobilitas dan transaksi—sesuatu yang selama ini hanya tersedia bagi warga sekitar maupun di luar daerah lainnya.

Pencipta aplikasi Muhaimin saat ditemui wartawan diruangan kantornya Kamis (19/6/2025) pagi , mengatakan bahwa Clarias Nusantara ini hadir sebagai jembatan antara percepatan teknologi dan realitas masyarakat yang masih tertinggal dari akses dan pehaman digital

Baca Juga: RUU Penyiaran Dinilai Tak Relevan, DPR Usul Pisahkan Aturan untuk OTT dan TV Konvensional

"Aplikasi ini juga mengurangi kesenjangan ekstrem Antara masyarakat perkotaan dan pedesaan dalam hal akses ekonomi, informasi, dan teknologi,  selain itu kami juga memberikan alat dan sistem yang aplikatif, agar Masyarakat dapat terlibat aktif dalam ekonomi digital tanpa harus menjadi korban perubahan" ungkapnya 

Masih kata Muhaimin, agen dibidang jasa ini juga berkerja sama Dengan karang taruna Desa Cilaku Kecamatan Tenjo kabupaten Bogor, dirinya merekrut para pemuda yang inovatif demi kemajuan Desanya sendiri.

Sementara itu,  Ridwan Efendi Saeful merupakan anggota karang taruna Desa Cilaku menanggapi Ide kreatif dari Anak bangsa yang membuatnya aplikasi ini, untuk mempermudah mobilisasi masyarakat secara digital.

" Melalui program kepeloporannya, Muhaimin tidak hanya menunjukkan bagaimana pemuda desa bisa menciptakan teknologi tepat guna, tetapi juga bagaimana teknologi bisa digunakan untuk menyelesaikan persoalan riil masyarakat, bukan sekadar gaya hidup urban" tutupnya