Dalam kesempatan itu, Rio juga menyinggung potensi kegiatan masyarakat menjelang Lebaran yang berdekatan dengan perayaan Hari Raya Nyepi pada 19 Maret mendatang. Ia menekankan pentingnya menjaga toleransi antarumat beragama.
“Walaupun umat Hindu di Kota Bogor tidak banyak, perayaan Nyepi tetap harus kita jaga dan hormati. Kita semua harus menjaga toleransi antarumat beragama,” katanya.
Selain itu, pihaknya juga memetakan sejumlah titik rawan di Kota Bogor selama periode Lebaran, seperti potensi bencana alam, kemacetan, hingga kebakaran.
“Titik rawan bencana alam ada di wilayah Bogor Selatan. Kemacetan lalu lintas diprediksi terjadi pasca Lebaran atau H+1, terutama akibat arus kendaraan dari Kabupaten Bogor yang melewati Tajur dan Ciawi. Untuk kebakaran biasanya terjadi di kawasan permukiman padat,” jelasnya.
Ia menambahkan pihaknya juga mengantisipasi potensi gangguan keamanan, termasuk aksi premanisme yang meminta tunjangan hari raya (THR) secara paksa kepada perusahaan.
Baca Juga: Jaga Kelancaran Arus Mudik 2025 di Bogor, Operasi Ketupat Lodaya Siagakan 6.000 Personel Gabungan
“Kalau ada yang meminta THR dengan cara memaksa, silakan laporkan kepada saya atau kepada Dandim. Kami akan mengambil tindakan. Kami tidak ingin ada preman yang memaksa masyarakat menyetor atau meminta THR,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Polresta Bogor Kota juga menggelar kegiatan pelayanan masyarakat berupa program ganti oli gratis bagi pengemudi ojek online di Kota Bogor.
Program tersebut menyediakan 300 kuota layanan pada tahap awal dan juga disertai pemeriksaan rem kendaraan secara gratis.
“Harapannya dengan pelayanan ini para pengemudi ojek online bisa tetap beraktivitas tanpa terbebani biaya perawatan kendaraan. Ini juga menjadi salah satu upaya kami untuk memitigasi kecelakaan lalu lintas,” kata Rio.
Comment