BOGOR, CEKLISSATU - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bogor melalui bidang Peternakan terus memonitoring para pedagang hewan kurban yang berada di pinggir jalan menjelang perayaan Idul Adha tahun 2022.

Kabid Peternakan DKPP Kota Bogor Anizar mengatakan, pihak telah membentuk tim monitoring di setiap kecamatan se-Kota Bogor. Tim ini setiap hari bergerak untuk meninjau dan melakukan pemeriksaan hewan kurban yang telah menggelar lapak di pinggiran jalan.

"Kami monitoring di enam kecamatan. Memang ada penurunan pedagang yang menggelar lapak, bahkan banyak juga yang tidak berjualan. Namum, sampai saat ini belum ditemukan hewan yang terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)," ucapnya kepada awak media pada Senin, 6 Juni 2022.

Baca Juga : 7 Ekor Sapi Asal Jawa Tengah Gejala PMK, RPH Terpadu Bubulak Ditutup

Kendati demikiam, Ani sapaan akrabnya mengaku, selama pemeriksaan terdapat beberapa hewan kurban yang sedang sakit tetapi tidak mengarah ke PMK. "Ada yang sakit tetapi gejala klinisnya tidak mengarah ke PMK, hanya suhu badan panas," ungkapnya. 

Menurut Ani, penyebaran PMK sangat cepat jika salah satu hewan terpapar. Biasanya, hewan yang terpapar itu bukan dari tempat asal hewan tersebut, melainkan bisa juga dari perjalanan.

"Kalau hewan sapi maupun kerbau sudah terpapar PMK tingkat kesakitannya bisa mencapai 100 persen, sedangkan tingkat kematiannya hanya 5 persen. Tergantung gejala klinisnya, ringan, sedang atau berat," ujarnya.

Baca Juga : Petugas Kesehatan Hewan Lumajang Kewalahan Atasi Wabah PMK

Ani mengimbau kepada para pedagang hewan kurban untuk tetap menjaga kondisi kesehatan hewan. Salah satunya bisa memberikan asupan vitamin atau menggunakan ramuan tradisional serta penjual bisa memilah hewan kurban yang memang membeli dari daerah lain. 

"Yang lebih efektif hewan yang akan dijual ini diberikan asupan ramuan herbal seperti campuran kunyit, pare atau daun pepaya, asam jawa, madu atau gula merah dan temulawak. Bisa diminumkan ke hewan ketika ada hewan yang sakit untuk memulihkan maupun menjaga kesehatannya. Kalaupun beli dari daerah lain, harus diperhatikan sumber daerahnya, jangan dari daerah yang sudah ada penyebaran PMK," katanya.

Baca Juga : Diskanak : Ada 14 Sapi di Kabupaten Bogor yang Terpapar PMK

Sementara itu, salah satu pedagang hewan kurban asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang berlokasi di Jalan Sholeh Iskandar tepatnya di Pospol Simpang Yasmin, Kecamatan Tanah Sareal, Baharudin mengaku, maraknya penyebaran PMK di pulau Jawa membuat dirinya merasa khawatir.

Namun, Baharudin menegaskan, hewan kurban yang dijual pihaknya telah diperiksa oleh DKPP Kota Bogor dan memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari kementrian Pertanian bahwa sapi ras Bali yang didagangkan di Kota Bogor tidak terpapar PMK.

"Alhamdulillah, sapi di sini semuanya dalam keadaan sehat dan sudah memiliki surat keterangan kesehatan hewan," singkatnya.