"Melalui pendekatan ini, konsep world class tidak lagi bersifat simbolik, tetapi menjadi strategi berkelanjutan untuk memperkuat kemandirian bangsa dan meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global," terangnya.
Sementara itu, Kepala BRIN, Prof. Arif Satria menyebut, penguatan ekosistem riset dan inovasi nasional—termasuk dorongan “Rumah Inovasi Indonesia” sebagai ekosistem terintegrasi (etalase, hub kolaborasi, dan one stop service)—dapat mendorong pemanfaatan riset bagi UMKM/startup, industri/BUMN strategis, hingga percepatan akuisisi teknologi global.
Baca Juga: FISIP UNIDA Kembali Berprestasi, Dua Mahasiswa Sabet Juara Satu Pencak Silat UIKA Championship 2025 Tingkat Nasional
Keberhasilan ekosistem riset ditentukan oleh kualitas penelitian serta tata kelola kolaborasi yang efektif dan keberpihakan regulasi.
"Perguruan tinggi harus berperan aktif sebagai simpul utama inovasi, baik melalui penguatan pusat unggulan riset, peningkatan kapasitas komersialisasi teknologi, maupun kemitraan strategis," tuturnya.
"Sinergi ini mampu mempercepat hilirisasi riset, meningkatkan nilai tambah ekonomi, serta memperkuat daya saing nasional berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi," tambahnya.
Baca Juga: Mahasiswa BEM FT Undip Bawa Teknologi Tepat Guna untuk Petani Gula Aren Desa Sriwulan
Tak hanya itu, Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali juga menyoroti pentingnya diversifikasi pendanaan guna memperkuat kemandirian kampus dan mendorong dampak Tridharma yang lebih nyata, yang harus ditopang tata kelola profesional, check-and-balance, transparansi digital, serta kepemimpinan transformasional.
Berbagai pandangan tersebut menegaskan bahwa penguatan perguruan tinggi memerlukan orkestrasi kebijakan, tata kelola, dan kolaborasi yang terintegrasi.