DeepSeek R1 dikembangkan sebagai model yang open-source di bawah lisensi MIT, yang artinya memberikan kebebasan bagi pengguna–baik individu maupun perusahaan–untuk memanfaatkan, memodifikasi, hingga mengkomersialkannya tanpa batasan yang ketat.
Fleksibilitas dan aksesibilitas inilah yang mungkin membuat banyak pengguna mulai melirik dan beralih ke DeepSeek.
Bagaimanapun, di balik pertumbuhan model AI yang sangat progresif ini, timbul pertanyaan besar, bagaimana mungkin sebuah AI yang masih baru dikembangkan mampu menyamai kecanggihan yang setara dengan pendahulunya meskipun melakukan strategi efisiensi?
Umumnya, pengembangan AI generatif membutuhkan waktu yang panjang serta investasi yang sangat besar. Menurut laporan yang beredar, proses pelatihan ChatGPT-4o saja menelan biaya hingga 63 juta dolar AS.
Sebaliknya, DeepSeek AI dilaporkan hanya menghabiskan dana sekitar 5,6 juta dolar AS–angka yang terlampau jauh dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan OpenAI dalam mengembangkan model AI mereka.
Di luar perdebatan mengenai efisiensi, aspek privasi dan keamanan data juga sempat mendapat sorotan serius dari warganet. Dalam era digital, keberhasilan suatu teknologi tak hanya diukur dari kecepatannya, tetapi juga dilihat dari seberapa baik sistem tersebut melindungi informasi penggunanya.
Baca Juga: Halal Bihalal RSUD Kota Bogor, Pererat Silaturahmi dan Tingkatkan Layanan Kesehatan
Pada Januari 2025, Wiz Research mengungkap adanya kebocoran lebih dari satu juta data pengguna DeepSeek AI. Data riwayat percakapan yang seharusnya bersifat privat justru ditemukan dapat diakses tanpa autentikasi.