Baca Juga: Punya Program Luar Biasa, DPR Minta Masyarakat Manfaatkan BPJS Ketenagakerjaan
Di sisi lain, BPJS Ketenagakerjaan juga menargetkan jumlah kepesertaan meningkat hingga 12 juta tahun ini.
“Tahun lalu kenaikan kita 3,6 juta tenaga kerja aktif, itu sekitar 9-10 persen. Tapi tahun ini kita menargetkan 12 juta kenaikan tenaga kerja aktif. Itu cukup challenging. Tapi itu salah satu komitmen kami untuk memperluas universal coverage jamsostek, supaya lebih banyak lagi tenaga kerja yang terlindungi,” ujar Oni.
Per akhir 2024, jumlah kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan mencapai 45,22 juta, naik 8,82 persen secara year on year (yoy).
BPJS Ketenagakerjaan telah membayarkan 4,02 juta kasus klaim pengajuan manfaat dengan nominal total Rp57,12 triliun hingga akhir 2024. Program Jaminan Hari Tua (JHT) menjadi program dengan jumlah nominal klaim tertinggi dengan persentase sekitar 83 persen dari total klaim yang ada.
Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Pastikan Karyawan dan Kurir Anteraja Terlindungi Program Jamsostek
Dana kelolaan pada periode yang sama mencapai Rp791,65 triliun, dengan porsi terbesar ada pada program Jaminan Hari Tua (JHT) yakni sebanyak Rp489,23 triliun, Jaminan Pensiun (JP) Rp189,15 triliun, Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) Rp67,31 triliun, Jaminan Kematian (JKM) Rp17,36 triliun, Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) Rp14,92 triliun, serta dana badan BPJS Rp13,66 triliun.