BOGOR, CEKLISSATU - Bagi sebagian besar orang Indonesia, kacang adalah teman setia seperti kacang goreng, bumbu kacang, hingga pecel menjadi santapan sehari-hari yang tak pernah terpikirkan sebagai ancaman. Namun bagi jutaan anak-anak di Eropa dan Australia, makanan ini bisa menjadi pemicu kematian.
Fakta ini bukan sekadar cerita. Di Australia, sembilan persen anak-anak berusia satu tahun menderita alergi makanan. Di antaranya, tiga persen spesifik alergi terhadap kacang. Di Inggris, kasus alergi kacang meningkat lima kali lipat antara tahun 1995 dan 2016.
Menurut laporan Global Allergy & Airways Patient Platform, sekitar 2-10 persen populasi di negara maju menderita alergi makanan. Australia mencatatkan diri sebagai negara dengan tingkat alergi makanan tertinggi di dunia, mempengaruhi sekitar satu dari sepuluh anak. Di Eropa, angkanya juga mengkhawatirkan meski sedikit lebih rendah daripada Australia. Di Inggris, prevalensi alergi kacang pada anak mencapai 2,5 persen.
Baca Juga: Tak Terima Diberitakan Kabid Bina Marga TUBA Satria Utama, Marah Kepada Wartawan
Sebaliknya, di Asia ceritanya sangat berbeda. Sebuah tinjauan penelitian alergi di Asia-Pasifik tahun 2013 menemukan bahwa prevalensi alergi kacang di negara-negara Asia mulai dari hampir nol kasus pada bayi di China dan Thailand, hingga hanya 0,64 persen di Singapura merupakan sebuah pecahan kecil dibandingkan dengan Inggris, Australia, atau Amerika Serikat . Di negara dengan konsumsi kacang tertinggi di dunia seperti India dan China, angka alergi justru sangat rendah.
Penjelasan paling kuat mengapa negara-negara bersih seperti Eropa dan Australia justru memiliki alergi tertinggi adalah Hygiene Hypothesis (Hipotesis Kebersihan). Akibatnya, sistem imun yang seharusnya sibuk melawan parasit atau bakteri patogen menjadi pasif dan salah sasaran, justru menyerang protein tidak berbahaya seperti yang ada dalam kacang. Selain itu negara-negara dengan musim dingin panjang dan sinar matahari terbatas seperti Inggris dan Skandinavia memiliki prevalensi alergi yang lebih tinggi dibandingkan negara-negara Mediterania. Kekurangan vitamin D disebut-sebut sebagai kandidat kuat faktor risiko alergi makanan dalam konteks kerentanan genetik.