Dadan juga mengungkapkan bahwa anggaran BGN awalnya sebesar Rp71 triliun, kemudian mendapat tambahan Rp14 triliun setelah disetujui Kementerian Keuangan, sehingga total anggaran menjadi Rp85 triliun.
“Kalau tidak ada tambahan Rp14 triliun, hari ini tidak ada lagi program makan bergizi karena dananya habis. Ini bukti bahwa mekanisme penyerapan anggaran kita berjalan,” katanya.
Mulai 8 Januari 2025, program makan bergizi gratis akan melayani sekitar 55 juta penerima manfaat dengan anggaran sekitar Rp850 miliar per hari. Dadan menyebut sekitar 70 persen anggaran digunakan untuk pembelian bahan baku pangan, yang berdampak langsung pada pergerakan ekonomi nasional.
“Ini bukan hanya program gizi, tapi juga penggerak ekonomi. Petani, peternak, nelayan, hingga relawan ikut merasakan dampaknya,” jelasnya.
Baca Juga: Alih Fungsi Dapur MBG Buktikan Negara Hadir Cepat Saat Bencana
Selain itu, BGN menargetkan peningkatan kualitas layanan melalui sertifikasi SPPG mulai 2026. Dadan menegaskan bahwa mitra yang tidak memenuhi standar akan diberi kesempatan memperbaiki diri sebelum dilakukan penilaian ulang.
“Kita tidak hanya bicara cepat, tapi juga kualitas. Tahun depan adalah masa peningkatan mutu layanan,” tegas Dadan.
Ia pun menutup sambutannya dengan apresiasi kepada seluruh pegawai dan mitra yang telah berkontribusi dalam menjalankan salah satu program prioritas nasional tersebut.