Bagi kuli genjur, kuli rata atau kuli muat, sebuah pangkalan yang banyak tersebar di wilayah Bogor Barat merupakan dapur dari mata pencaharian mereka.

"Ini adalah dapur kami dalam mencari nafkah, namun adanya peraturan tersebut saya dan teman-teman di pangkalan menjadi korban akibat dampak adanya penutupan," ucap Dani.

Baca Juga: Ribuan Warga di Cigudeg Aksi Tolak Keputusan Gubernur Jabar Soal Pemberhentian Operasional Pertambangan

"Akibat adanya penutupan ini kebutuhan sehari hari kami tidak bisa kami penuhi. Kami punya tunggakan kepada bank, adanya kejadian ini kami tidak bisa membayar cicilan bulanan ke bank mingguan," lanjut kuli genjur tersebut.

Lenih lanjut, Dani mengaku, ketika kondisi normal, ia bisa membawa uang buat anak istri sekitar Rp200 ribu per hari. Namun, pasca ditutup tak satu rupiah pun ia dapat.

"Penghasilan kami tiap harinya tidak menentu kadang paling besar sehari kami bisa bawa pulang uang Rp200 ribu, tapi adanya kejadian ini sudah empat hari kami tidak bisa membawa uang untuk kami bawa pulang. Nol tidak ada penghasilan sama sekali sudah lima hari semenjak penutupan tesebut," jelasnya.

Baca Juga: Pemprov Jabar Hentikan Sementara Aktivitas Tambang di Parung Panjang, Rumpin, dan Cigudeg 

Ia pun berharap pemerintah segera memberikan solusi. "Harapan saya mudah-mudahan pemerintah segera menyelesaikan masalah ini dan segera normal kembali seperti semula. Tolong kasihani saya dan rekan-rekan saya di sini yang terdampak ini," tutupnya.