Wakil Direktur Strategi Jenama ICCN Romi Angger Hidayat dalam kesempatan yang sama memaparkan pengalaman Cilacap sebagai Kabupaten Kreatif FAV, yang tengah membangun ekosistem dari hulu ke hilir—mulai dari ruang produksi, pengembangan talenta, hingga distribusi dan layar apresiasi. 


"Banyumas dan Cilacap memiliki potensi kolaborasi strategis, terutama dalam pertukaran praktik baik antar komunitas dan penguatan jejaring ICCN di tingkat regional," ungkapnya.

Baca Juga: Dari Rel ke Panggung Budaya – Kolaborasi KAI & ICCN 2025


Forum lintas komunitas yang berlangsung dalam acara ini juga menjadi ruang berbagi tantangan nyata yang dihadapi pelaku, mulai dari keterbatasan ruang berkarya, regenerasi seniman, akses pasar, hingga kebutuhan pendampingan kuratorial dan manajerial. 


Seluruh isu tersebut dicatat sebagai bahan tindak lanjut bagi UKP, ICCN, dan Komite Ekonomi Kreatif Jawa Tengah.


Melalui kegiatan “UKP Mendengar”, Banyumas menjadi contoh bagaimana ruang dialog berbasis komunitas dapat mempertemukan kebijakan nasional dengan realitas lokal. Acara ini diharapkan tidak berhenti sebagai pertemuan satu hari, melainkan menjadi awal penguatan jejaring, kolaborasi lintas wilayah, serta langkah konkret menuju ekosistem ekonomi kreatif yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan di Jawa Tengah dan Indonesia.