“Dalam jangka panjang, risiko penyakit paru, jantung, dan pembuluh darah juga turun drastis karena tubuh mulai memulihkan diri dari kerusakan akibat rokok,” kata Dr. Feni.
Ia mencontohkan, setelah sekitar satu minggu tidak merokok, seseorang dapat mulai merasakan peningkatan stamina, seperti mampu berjalan lebih jauh tanpa mudah sesak napas.
Baca Juga: HIMAKOM FISIP UNIDA Gelar Say Hello 2026 di Cifos Ciawi, Angkat Tema “Salah Jurusan atau Belum Ketemu Peran?”
Untuk membantu proses berhenti merokok, masyarakat dapat memulai dengan beberapa langkah sederhana. Pertama, menentukan hari pasti untuk berhenti, misalnya pada hari pertama Ramadan.
Kedua, mengenali situasi yang biasanya memicu keinginan merokok, seperti setelah makan, saat minum kopi, ketika stres, atau saat berkumpul dengan teman.
Selain itu, kebiasaan setelah sahur atau berbuka dapat diganti dengan aktivitas lain, seperti menyikat gigi, mencuci muka, atau berjalan kaki selama lima hingga sepuluh menit.
Lingkungan juga perlu dibersihkan dari rokok atau vape, serta meminta dukungan keluarga dan teman agar tidak menawarkan rokok.
Baca Juga: Membanggakan, Mahasiswa Vokasi UI Jadi Satu-Satunya Delegasi Indonesia di Forum Internasional Amsterdam
Dalam proses berhenti merokok, beberapa gejala putus nikotin seperti keinginan kuat untuk merokok, gelisah, mudah marah, sulit fokus, insomnia, atau peningkatan nafsu makan dapat muncul. Gejala tersebut biasanya paling kuat pada awal proses, namun akan berangsur mereda seiring waktu.
“Jika keinginan merokok muncul, coba tunda sekitar 10 menit, alihkan pikiran, tarik napas dalam, dan hindari pemicu seperti kopi sementara waktu,” ujar Dr. Feni.
Comment