Awalnya, PEKA itu wadah ruang apresiasi dan kolaborasi. Kami ingin ada tempat bagi siapa pun untuk mengekspresikan karya lagu, puisi, teater, apa saja. Dari situ kami berpikir, setelah acara selesai, apa langkah selanjutnya? Maka lahirlah TBM PEKA Pamulang sebagai wadah berkelanjutan untuk anak-anak belajar dan membaca,” ungkapnya.


TBM ini juga dikenal aktif di bidang literasi seni, menggabungkan kegiatan membaca dengan ekspresi kreatif seperti menggambar, menulis, dan pertunjukan kecil seni musikalisasi puisi, serta alat musik angklung. Pendekatan ini menjadikan TBM PEKA sebagai ruang yang hidup dan penuh energi positif bagi anak-anak Pamulang.

Makna dan Harapan dari Roadshow

Kang Albani mengapresiasi kegiatan roadshow Festival Literasi yang diselenggarakan oleh TBM Bale Baca Cijayanti yang membawa semangat permainan tradisional ke tengah anak-anak.

Baca Juga: Jaker Bogor Nilai Ruang Terbuka Publik Jadi Kunci Hindari Anak dari Ketergantungan Gadget

“Sekarang permainan kayak gitu udah langka. Tapi lewat kegiatan ini, anak-anak bisa main bareng tanpa HP, tanpa internet. Itu pencapaian besar, karena di situ mereka belajar berinteraksi, berempati, dan mengenal karakter satu sama lain,” ujarnya.
Kegiatan ini bukan hanya bentuk hiburan, tetapi juga menjadi media pembelajaran sosial bagi anak-anak. Melalui permainan tradisional, mereka belajar kerjasama, sportivitas, empati, dan komunikasi tanpa ketergantungan pada gadget. 


Ia berharap kolaborasi ini tidak berhenti di satu kegiatan saja. “Mudah-mudahan nanti kita bisa bikin acara bareng-bareng lagi. Biar yang udah terkoneksi bisa terus jalan dan berkembang,” tutupnya.