Selain pemuda, kami juga mendapati bahwa petani Sukagalih memiliki peran penting. Melalui penghubungnya, yaitu KuTani, kami berdiskusi bagaimana hasil panen bisa lebih bernilai. Salah satu masukan yang kami berikan adalah terkait inovasi kemasan dengan ukuran lebih kecil agar bisa dipasarkan langsung ke konsumen (direct to customer). Tidak hanya itu, para petani juga didorong untuk lebih melek digital—belajar menggunakan media sosial, membuat konten yang menarik, hingga mengelola akun secara konsisten.

Semua hal ini menunjukkan bahwa pembangunan desa bukan hanya soal fisik, tetapi juga penguatan sumber daya manusianya. Anak muda yang kreatif, petani yang inovatif, dan masyarakat yang peduli adalah kombinasi ideal untuk menjadikan desa mandiri dan maju.

Baca Juga: Proyek Strategis untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi Merata

Desa Sukagalih mengajarkan saya satu hal penting: bangsa ini akan kuat bila desa-desa mampu berdiri tegak, dan desa akan maju bila anak mudanya berani bergerak. Dari Sukagalih, kita belajar bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil—dari tumpeng yang dibuat bersama, dari sosialisasi yang membuka mata, hingga dari petani yang mulai percaya diri memasarkan produknya langsung ke konsumen.

Kini, setelah KKN usai, saya hanya bisa berharap apa yang sudah dirintis bersama tetap berlanjut. Semoga FKP2IC terus menjadi garda terdepan pergerakan pemuda, para petani semakin berdaya dengan inovasi yang dibangun, dan masyarakat tetap menjaga semangat gotong royongnya. KKN boleh berakhir, tetapi api perubahan jangan sampai padam.