BOGOR, CEKLISSATU.COM -- Pemilu pada dasarnya merupakan instrumen demokrasi yang bertujuan memberikan ruang bagi rakyat untuk menentukan arah kekuasaan. Namun, realitas politik yang terjadi justru menunjukkan ironi.
Pemilu sering kali menjadi ritual prosedural belaka, di mana rakyat hanya dibutuhkan ketika suara mereka diperlukan, lalu ditinggalkan setelah kekuasaan berhasil diraih.
Fenomena ini dapat digambarkan melalui pepatah “habis manis sepah dibuang”.
Politisi mendatangi rakyat dengan wajah ramah dan janji-janji manis, tetapi setelah suara terkumpul, pintu komunikasi justru ditutup rapat.
Baca Juga: Tolak RKUHAP, Mahasiswa Bogor: Ini Pengkhianatan Semangat Demokrasi
Demokrasi kemudian tereduksi menjadi basa-basi yang dikelola oleh elite politik dengan mentalitas minimalis demi keuntungan maksimal.
Padahal, politik sejatinya adalah jalan untuk membangun keadilan dan kesejahteraan bersama. Kini orientasi tersebut bergeser: politik dijadikan sarana untuk menghidupi diri, keluarga, dan kelompok tertentu.
Kenyataan ini menunjukkan pergeseran makna politik. Jika dahulu para pemimpin besar mendedikasikan hidupnya untuk politik, maka kini politik lebih sering dijadikan sebagai alat pemenuhan kepentingan pribadi.
Comment