BOGOR, CEKLISSATU – Gemuruh Piala Dunia 2026 yang akan digelar pada Juni hingga Juli di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ternyata belum mampu membangkitkan gairah penjualan atribut sepak bola di pasar tradisional. Sejumlah pedagang mengaku masih memilih wait and see karena kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat yang menurun.

Christian, pedagang pakaian yang sudah hampir 40 tahun berjualan di pasar, mengaku belum berani menyiapkan stok besar untuk atribut Piala Dunia tahun ini. Menurutnya, antusiasme pembeli jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu.

“Kalau dulu pernah jualan atribut bola juga, tapi sedikit-sedikit. Sekarang kita lihat dulu pasarnya. Kalau memang ada permintaan baru kita sediakan,” ujarnya.

Baca Juga: Timnas FA7 Indonesia Resmi Diluncurkan, Siap Ukir Sejarah di Piala Dunia Honduras 2026

Ia mengatakan, risiko menumpuknya stok menjadi pertimbangan utama pedagang. Sebab, produk bertema sepak bola biasanya hanya laris saat momennya masih hangat.

“Kalau stok banyak tapi permintaan sedikit, barang bisa lama habisnya. Kadang sampai bertahun-tahun baru keluar,” katanya.

Christian menyebut harga jersey yang dijual biasanya disesuaikan dengan kemampuan pasar. Ia berusaha menjaga harga tetap di bawah Rp100 ribu agar lebih mudah dijangkau masyarakat.

“Kita usahakan jangan terlalu mahal. Kalau terlalu mahal susah jualnya,” ucapnya.

Meski Piala Dunia selalu memiliki pasar tersendiri, penjualan menurutnya tetap bergantung pada tim favorit pembeli. Namun kondisi ekonomi saat ini membuat dirinya tidak terlalu optimistis menghadapi momen sepak bola terbesar dunia tersebut.

“Saya tidak terlalu optimis karena kondisi ekonomi sekarang,” katanya.

Ia mengungkapkan penjualan pakaian di pasar tradisional saat ini mengalami penurunan drastis. Bahkan banyak kios yang mulai tutup akibat sepinya pembeli.

“Penurunannya bisa sampai 50 persen. Tadi juga banyak kios yang tutup,” ungkap Christian.

Di tengah lesunya penjualan atribut sepak bola, kebutuhan pakaian sekolah justru masih menjadi produk yang paling dicari masyarakat.

Baca Juga: HUT ke-96 PSSI: Optimisme Menuju Piala Dunia 2030 Menguat dalam Water Break PSSI Pers

“Sekarang yang paling banyak dicari itu kebutuhan baju sekolah. Kalau yang lain tidak terlalu,” jelasnya.

Selain faktor ekonomi, maraknya belanja online juga ikut memengaruhi penjualan di pasar tradisional. Meski demikian, menurut Christian, tidak sedikit konsumen yang kecewa karena barang yang dibeli secara online tidak sesuai harapan.

Christian sendiri sudah berjualan hampir empat dekade di pasar tersebut. Meski sempat berpindah lokasi, tokonya tetap bertahan hingga sekarang.

“Nama toko ini sudah lama, hampir 40 tahunan,” tutupnya.