JAKARTA, CEKLISSATU — Bergulirnya Indonesia Women's League (IWL) pada Oktober 2026 disambut optimistis oleh pelatih dan pemain sepak bola putri. Kompetisi ini dipandang sebagai pembuka ruang karir profesional dan arena memperluas talent pool.

IWL dijadwalkan memulai kick-off pada 17 Oktober 2026 dengan format pertandingan terpusat di Stadion Soemantri Brodjonegoro, Jakarta.

 Sebagai langkah awal, kompetisi diikuti enam klub dari Jabodetabek: Bekasi FC, Persikad Depok, Dewa United, Persija Jakarta, Persita Tangerang, dan Garuda Yaksa.

Pelatih sekaligus manajer Persikad Depok, Diego Tobing, menilai IWL sebagai momentum penting bagi perkembangan sepak bola putri. Kompetisi perdana ini, menurutnya, menjadi tolok ukur baru untuk melihat kelayakan dan perkembangan pemain putri potensial.

“Dengan IWL, pastinya lebih menantang karena kompetisi pertama ini akan menjadi tolok ukur baru bagi kelayakan pemain-pemain putri potensial di masa depan,” ujar Diego di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Diego menilai model drafting yang memadukan pemain tim nasional dan non-tim nasional dalam satu klub sebagai langkah positif. Skema ini diyakini memperkuat persaingan sehat sekaligus memperluas ruang belajar pemain muda.

Pemain berusia 17–18 tahun katanya, akan mendapat pengalaman berharga melalui kompetisi dan persaingan bersama pemain senior. 

Dengan alokasi enam pemain tim nasional di setiap klub, proses tumbuh bersama antara pemain berpengalaman dan pemain muda diharapkan semakin kuat.

Optimisme serupa disampaikan pemain Dewa United, Safira Ika Putri. Ia memandang IWL sebagai wadah profesional bagi pesepak bola putri untuk membangun karir di dalam negeri serta meningkatkan permainan dan kemampuan teknis.

“Senang sekarang ada wadah yang lebih profesional untuk berkarier di sepak bola di dalam negeri, sehingga kami bisa berkembang dari sisi permainan dan skill,” kata Safira.

Menurut Safira, kehadiran liga memberi dampak langsung terhadap kesiapan fisik pemain. Persiapan persiapan hingga pertandingan akan membantu menjaga kebugaran, sementara sistem kontrak dipandang sebagai awal jaminan karir di sepak bola profesional. IWL juga membuka panggung bagi pemain muda untuk menampilkan bakat dan potensi.

“Terima kasih kepada Pak Erick Thohir, Bu Vivin, dan para Exco yang telah memperjuangkan ini,” ujar Safira.

Pemain Bekasi FC, Zahra Musdalifa, menyambut IWL dengan antusias, meski masih dalam masa pemulihan cedera dan berpotensi tampil pada putaran kedua. Baginya, kompetisi ini mewujudkan harapan pemain putri untuk merasakan liga profesional setelah rencana kompetisi pada 2019 terkendala pandemi pada 2020.

"Meski masih enam klub dan bermain dengan model terpusat, bagi saya it's more than Nothing. Ini membuat mimpi kami sebagai pemain profesional benar-benar menjadi kenyataan," tutur Zahra.

Zahra memandang skema drafting sebagai pilihan yang tepat pada tahap awal IWL. Penyebaran pemain tim nasional ke beberapa klub, dengan masing-masing tim diperkuat enam pemain tim nasional, dinilai dapat mengurangi kekuatan. 

Ia mengajak pemain non-tim nasional memanfaatkan kompetisi ini untuk membuktikan kualitas serta membuka jalan karier profesional. Format keterikatan dan keterlibatan enam klub diharapkan menjadi fondasi kompetisi putri nasional yang kompetitif dan berkelanjutan di Indonesia.