Meski demikian, Ambar menerangkan bahwa pihaknya akan terus melakukan langkah preventif dengan mengedukasi masyarakat agar bijak menggunakan layanan pinjol atau pay later.

“Bagaimana untuk memitigasi itu? Nah kita mengedepankan preventif nya, kita edukasi. Jadi kenapa sih orang harus pay later, balik lagi tadi kebutuhannya apa, kemampuannya apa, kenapa sih kita harus menggunakan fintech pay later itu? Konsepnya itu kebutuhan dan kemampuan,” terang Ambar.

Ambar menilai, naiknya trend dan transaksi Pinjol atau pay later menjelang Hari Raya Idul Fitri tidak terlalu buruk bagi masyarakat. Sebab hal itu mengindikasikan masyarakat Jawa Barat sudah mulai melek digital.

Baca Juga: Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Minta ASN Tidak Bawa Mobil Dinas Saat Mudik Lebaran 2025

“Bukan buruk ya, yang tadi disampaikan berarti kan memang masyarakat Jawa Barat ini sudah mulai melek digital, melek akses keuangan. Artinya, penggunaan masyarakat Jawa Barat yang banyak menggunakan pinjol, ya posisi positifnya ada,” ungkap Ambar.

“Artinya mereka apa? Sudah bisa mengakses secara mandiri melalui gadget masing-masing. Cuma kita mengedepankan edukasi tadi bagaimana masyarakat supaya lebih bijak dalam menggunakan si pinjol itu,” tandasnya.

Apalagi, lanjut Ambar Tingkat Wan Prestasi (TWP 90) atau keberhasilan membayar masyarakat di Jawa Barat masih dibawah ambang batas yang ditentukan sebesar 5 persen. Menurut data dari OJK Jabar TWP 90 pengguna layanan pinjol dan paylater di Jawa Barat per Desember 2024 berada di angka 2,60 persen.