KABUPATEN BOGOR, CEKLISSATU - Guna mewujudkan generasi emas, sektor Pendidikan Indonesia akan menghadapi tantangan yang cukup berat. Hal itu disampaikan Founder LS Vinus, Yusfitriadi dalam sebuah diskusi yang mengangkat tema "Dibawa Kemana Peta Jalan Pendidikan Kabupaten Bogor", yang berlangsung di Sekretariat LS Vinus, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor.

Yusfitriadi menyebutkan, masih ada sekolah yang belum memiliki karakter unggul dalam mendukung siswa menjadi generasi emas.

"Misalnya guru tidak memiliki karakter, Kepsek tidak punya karakter atau dinas dan kementeriannya tidak punya karakter termasuk masyarakatnya," ungkap Yusfitriadi.

"Itu saya pikir akan berat untuk kita bisa mewujudkan generasi-generasi yang bisa membanggakan," tambahnya.

Baca Juga: Resah Jadi Tempat Maksiat, Polresta Bogor Kota Razia Penginapan, Amankan 1 Mucikari

Yusfitriadi mengaku, sering melihat di media sosial kasus kenakalan remaja, seperti tawuran dan siswa melawan guru atau orang tua.

"Kita sering melihat di berbagai media misalnya siswa tawuran siswa melawan guru, siswa lawan orang tua," kata dia.

Pendiri LS Vinus itu menyebut banyak kepala sekolah kini melakukan pungli melalui program yang tidak efektif.

"Begitupun ramai kepala sekolah yang banyak melakukan pungutan liar hari ini dengan program program yang tidak efektif dan tidak efisien dan memberatkan orang tua siswa," papar Yusfitriadi.

Baca Juga: Wabup Bogor Jaro Ade Minta Percepatan Revitalisasi Pasar Leuwiliang, Perumda Pasar Tohaga: Kami Akan Kawal

Ia juga menyoroti lemahnya pengawasan dari legislatif dan kementerian dalam mengendalikan berbagai penyimpangan di dunia pendidikan.

Yusfitriadi menekankan pentingnya sekolah memperhatikan kurikulum agar dapat mencetak siswa yang mandiri dan berdaya saing.

"Tapi dalam kontekstual atau implementasi bagaimana kemudian mendorong siswa tidak hanya sekedar cerdas tapi juga mendorong siswa yang mandiri dan berdaya saing," tandasnya.

Selain itu, Yusfitriadi menyoroti lingkungan sekolah di Indonesia, menekankan bahwa tanpa lingkungan yang memanusiakan, sulit mencetak generasi emas. (Dziharul Islam Nusantara)