BANDUNG, CEKLISSATU.COM – Puluhan siswa SMK di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB), diduga mengalami keracunan MBG (Makanan Berizi Gratis), Senin (22/9/2025).

Dinas Kesehatan (Dinkes) KBB langsung bergerak cepat dengan menyiagakan posko darurat dan menurunkan tim medis guna memberikan penanganan kepada para korban keracunan MBG.

Plt Kepala Dinas Kesehatan KBB, dr. Lia N. Sukandar, membenarkan laporan puluhan asiswa diduga keracunan MBG tersebut.

Baca Juga: Korban Keracunan MBG Naik hingga 214 Orang, Dinkes Kota Bogor Lakukan Investigasi

Ia menyebut laporan awal diterima dari Puskesmas dan RS Cililin sekitar pukul 15.23 WIB.

“Kami menerima laporan dari Puskesmas dan RS Cililin. Saat ini Dinkes KBB sudah meluncur ke lokasi untuk memberikan penanganan kepada para korban,” kata Lia, Senin (22/9/2025).

Menurut Lia, setidaknya 30 siswa SMK menjadi korban dugaan keracunan MBG.

Baca Juga: Dinkes Bergerak Cepat Tindaklanjuti Dugaan Keracunan Makanan

Namun, jumlah ini diperkirakan bertambah karena pendataan masih berlangsung di lapangan.

Untuk penanganan cepat, Dinkes KBB menyiagakan posko darurat di Puskesmas Cipongkor sebagai posko pertama dan di Kantor Kecamatan Cipongkor sebagai posko kedua.

Selain itu, Puskesmas Citalem dan Gununghalu juga disiapkan sebagai tempat rujukan tambahan.

Baca Juga: Pemkot Bogor Tetapkan KLB Keracunan Massal, Pj Wali Kota Monitor 24 Jam

“Dua tim Public Service Center (PSC) 119 Dinkes KBB juga sudah diturunkan ke posko 1 dan 2. Tim dilengkapi jajaran struktural, Plt Kadinkes, Plt Sekdis, Ketua Yankes, tim surveilans P2P, dan unsur lainnya,” bebernya.

Dinkes KBB juga berkoordinasi dengan Asosiasi Klinik (Asklin) Cipongkor agar seluruh fasilitas kesehatan di wilayah sekitar siap menerima pasien tambahan.

Terkait penyebab, Lia menyebut pihaknya masih melakukan investigasi. Sampel MBG sudah diambil untuk diperiksa di laboratorium.

Baca Juga: Ratusan Siswa SMPN 35 Bandung Keracunan Makanan, Mengalami Gejala Mual dan Diare

“Masih diduga apakah dari makanan program MBG atau dari makanan lain. Jadi informasi saat ini masih sementara,” ujarnya.

Jumlah korban hingga kini masih tercatat 30 siswa SMK. Namun, Lia mengingatkan data bisa terus bertambah seiring laporan baru yang masuk.

“Kami belum bisa memastikan detail sekolah asal maupun golongan umur korban. Data lengkap akan segera kami informasikan lebih lanjut,” imbuhnya.