“Penyakit ini bukan hanya persoalan kesehatan saat ini, tetapi juga membawa stigma yang luar biasa. Oleh karena itu, dibutuhkan peran maksimal dari seluruh pihak, termasuk pemerintah,” kata Hanafi saat membuka ACF di Lapangan Basket GOR Pajajaran, Tanah Sareal, Senin (3/2/2025).
Hanafi menambahkan bahwa penanggulangan TBC harus dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan berbagai sektor agar deteksi kasus semakin masif.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Sri Nowo Retno, menuturkan bahwa program ACF merupakan bagian dari upaya mendukung eliminasi TBC 2030 melalui strategi "Temukan, Obati, Sampai Sembuh" (TOSS TBC).
Baca Juga: Kota Bogor Deklarasi Geber Si JUMO dan Jamilah
“Masyarakat harus lebih sadar terhadap bahaya TBC. Jika mengalami gejala, segera periksa ke fasilitas kesehatan. Baik masyarakat maupun tenaga kesehatan harus aktif menemukan dan melaporkan kasus terduga TBC agar bisa segera dilakukan pemeriksaan dan investigasi kontak,” ujar Retno.
TBC masih menjadi penyakit menular paling mematikan kedua di dunia. Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan RI menerapkan kebijakan pencegahan TBC yang tertuang dalam Strategi Nasional 2020-2024. Salah satu upayanya adalah mengombinasikan strategi penemuan dan pengobatan TBC secara aktif dengan upaya pencegahan melalui pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kasus infeksi laten TBC (ILTB).
Deteksi dini TBC dilakukan dengan skrining sistematik pada populasi berisiko tinggi, seperti kontak serumah pasien TBC, orang dengan HIV/AIDS (ODHIV), penyandang diabetes melitus, orang dengan kurang gizi, perokok, dan mereka yang tinggal di lingkungan dengan kasus kusta. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat diagnosis, mengurangi sumber penularan, dan menekan jumlah kasus baru.
Comment