BOGOR, CEKLISSATU.COM - Pakar kesehatan IPB University mengingatkan orang tua agar lebih waspada terhadap konsumsi jajanan manis pada anak. 

Di balik tampilannya yang menggoda, muncul kekhawatiran terkait dugaan penggunaan bahan berbahaya serta tingginya kandungan gula dan pewarna buatan yang berpotensi membahayakan kesehatan anak.

Dokter Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran IPB University, dr Yusuf Ryadi mengingatkan, bahwa konsumsi makanan tinggi gula dan pewarna secara rutin berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak.

Baca Juga: Sekujur Tubuh Bocah Terbakar Saat Membeli Jajanan Ice Smoke

"Dampaknya cukup serius, terutama jika dikonsumsi rutin. Asupan gula berlebih terbukti meningkatkan risiko obesitas, gigi berlubang, gangguan metabolik, dan pada beberapa anak dapat memicu gangguan perilaku serta gangguan konsentrasi," ujar pakar kesehatan IPB University itu.

Meskipun pewarna dan perisa buatan yang digunakan bersifat food grade dan diperbolehkan secara regulasi, ia menyebut risiko tetap ada jika konsumsinya berlebihan atau berlangsung dalam jangka panjang. 

Hal itu menjadi lebih krusial karena sistem metabolisme anak masih dalam tahap perkembangan.

Baca Juga: 5 Makanan Kaya Air dan Serat untuk Menjaga Gula Darah Stabil, Cocok Untuk Menu Diet Sehat Penderita Diabetes

Fenomena jajanan viral dengan warna mencolok juga dinilai ikut mendorong meningkatnya masalah gizi pada anak. 

Menurut dr Yusuf, tren ini berkontribusi secara tidak langsung terhadap lonjakan obesitas dan penyakit tidak menular.

"Jajanan viral umumnya tinggi gula, lemak, dan kalori, namun rendah serat serta zat gizi. Jika pola konsumsi ini menjadi kebiasaan sejak dini, risiko obesitas anak meningkat dan dapat berlanjut menjadi diabetes tipe 2, hipertensi, hingga penyakit jantung di usia lebih muda," jelasnya.

Lebih jauh, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula sejak dini juga berdampak pada pola makan jangka panjang. 

Baca Juga: Tingkatkan Layanan Fasilitas Kesehatan, DPRD Kabupaten Bogor Dorong Pemkab Tambah Jumlah RSUD

Anak dapat mengalami ketergantungan rasa manis dan kesulitan menerima makanan sehat di kemudian hari.

"Preferensi rasa terbentuk sejak kecil. Jika terbiasa dengan rasa manis dan warna mencolok, anak akan kesulitan membiasakan diri dengan makanan sehat yang secara visual dan rasa cenderung kalah menarik," ungkap dr Yusuf.

Dari sisi pengawasan, dr Yusuf menilai regulasi sebenarnya sudah tersedia, namun penerapannya di lapangan masih menghadapi banyak tantangan. 

Produk jajanan rumahan, jajanan viral musiman, serta penjualan daring sering kali luput dari pengawasan rutin.

Baca Juga: Kasus Mie Mengandung Tawas, BPOM Koordinasi dengan Polresta Bogor Kota untuk Pendalaman Pengujian

"Pengawasan terhadap takaran gula, jenis pewarna, dan bahan tambahan pada produk-produk tersebut masih menjadi celah," katanya.

Ia menegaskan, langkah paling mendesak yang perlu dilakukan pemerintah adalah memperkuat pengawasan jajanan anak, memperjelas label kandungan gula dan bahan tambahan, serta melakukan edukasi masif kepada orang tua dan sekolah.

"Selain itu, perlu kebijakan yang mendorong terciptanya lingkungan pangan sehat, agar anak-anak memiliki akses yang mudah terhadap makanan bergizi, enak, dan aman," tutupnya.