Sebagai contoh, dalam platform tersebut ada adegan karakter Bu Icih yang sedang mengalami kesusahan. Anak-anak pun diberi pilihan untuk membantu atau tidak. Itu menjadi skenario sederhana yang sarat dengan nilai gotong royong.
Jika platform lain lebih fokus mengunci atensi anak agar terus menonton, NusaEdufy menekankan pada pembelajaran budaya dan pendidikan karakter.
Setiap cerita hanya berdurasi 3-6 menit, sesuai dengan rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) agar anak usia di bawah lima tahun tidak menghabiskan lebih dari satu jam screen time per hari.
Baca Juga: IPB Run 2025 Capai 4.000 Peserta, Panitia Siapkan Rute Asri Kampus Dramaga
Selain itu, NusaEdufy juga menggunakan warna pastel dengan saturasi rendah agar nyaman di mata anak, serta menekankan teks dalam visual novel agar selaras dengan kebiasaan membaca buku cerita.
Bagi anak-anak, NusaEdufy menawarkan pengalaman imersif untuk mengenal budaya, mulai dari pakaian adat, musik tradisional, hingga nilai gotong royong.
Sementara bagi orang tua, aplikasi tersebut menjadi alat bantu diskusi tentang nilai kehidupan, sekaligus memberikan rasa aman karena konten yang disajikan sudah terkurasi.
“Dengan NusaEdufy, orang tua bisa memastikan screen time anak tidak sia-sia. Ada manfaat kognitif, emosional, sekaligus kultural,” tambah Senopati.
Baca Juga: Rektor UI Terima Penghargaan Bergengsi dari Tohoku University Jepang, Perkuat Reputasi Global
NusaEdufy juga berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), seperti memastikan anak memperoleh pengetahuan dan keterampilan berbasis budaya lokal (Pendidikan Berkualitas) serta membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari orang tua, lembaga pendidikan, hingga instansi pemerintah (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).