BOGOR, CEKLISSATU -‎Diera media sosial seperti sekarang, kontroversi seorang influencer sering kali bukan lagi akhir dari popularitas mereka. Hari ini dihujat habis-habisan, beberapa minggu kemudian kembali muncul di podcast, membuat konten seperti biasa, lalu perlahan diterima lagi oleh publik. Bahkan tidak sedikit yang justru semakin ramai dibicarakan setelah terkena kasus.

‎
‎Fenomena ini membuat satu pertanyaan terasa cukup mengganggu: mengapa sebagian netizen Indonesia begitu cepat memaafkan figur publik yang sebenarnya sudah melakukan kesalahan serius?
‎
‎Setiap kali ada influencer yang terlibat masalah, respons publik biasanya memang besar di awal. Potongan video tersebar cepat, kolom komentar dipenuhi kritik, dan ajakan boikot muncul di berbagai platform media sosial. Namun pola ini sering berakhir sama. Ketika muncul kasus baru yang lebih viral, kontroversi sebelumnya perlahan tenggelam dan figur yang sempat “dicancel” kembali diterima seperti biasa.

Baca Juga: Pengawasan UU HPP di Jakarta, Fahira Idris Soroti Perlindungan UMKM, Pekerja Gig, Daya Beli dan Pajak Karbon
‎
‎Tentu tidak semua netizen Indonesia bersikap seperti itu. Masih banyak masyarakat yang tetap kritis dan konsisten terhadap tindakan figur publik. Namun di sisi lain, ada juga sebagian orang yang justru tetap memberikan perhatian, dukungan, bahkan panggung kepada influencer yang berkali-kali membuat kontroversi.
‎
‎Arus informasi di media sosial yang bergerak sangat cepat membuat perhatian publik mudah berpindah. Menurut laporan DataReportal Indonesia 2025, masyarakat Indonesia menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari di media sosial. Akibatnya, satu isu bisa dengan cepat tergantikan oleh isu lain yang lebih baru dan lebih ramai. Hari ini ramai membahas satu kasus, beberapa hari kemudian perhatian sudah berpindah ke kontroversi lain.