Fenomena sampah di ruang publik juga berkaitan dengan kualitas lingkungan perkotaan secara lebih luas. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut wilayah perkotaan kini mengalami fenomena urban heat island atau kondisi ketika suhu kota terasa lebih panas dibanding wilayah sekitarnya akibat dominasi beton, aspal, dan minimnya vegetasi.
Menurut BMKG, efek urban heat island telah dirasakan di sejumlah kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar selama puluhan tahun terakhir. Minimnya ruang hijau membuat panas lebih mudah tersimpan di permukaan kota dan dilepaskan kembali ke udara, terutama pada malam hari.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kualitas lingkungan perkotaan dipengaruhi oleh berbagai kebiasaan masyarakat, mulai dari cara menggunakan ruang publik hingga pengelolaan sampah sehari-hari. Ruang kota yang dipenuhi sampah, kendaraan, dan dominasi bangunan beton perlahan membentuk lingkungan yang semakin tidak nyaman untuk ditinggali.
Baca Juga: Usung Semangat Eco Movement, Medali Peserta Bogor Run 2026 Dibuat dari Sampah Sungai Cisadane
Di tengah berbagai kampanye menjaga lingkungan, fenomena sampah pasca keramaian menunjukkan bahwa kesadaran publik belum selalu berjalan seiring dengan perilaku nyata. Perayaan mungkin hanya berlangsung semalam, tetapi jejak yang ditinggalkan di ruang publik bisa bertahan lebih lama.
Siti Balqis Sari Manah