BOGOR, CEKLISSATU.COM - Pernah nggak kalian bertanya-tanya “Kenapa sih China ogah banget buat ngelepasin Taiwan? Kenapa sampai segitunya dipertahanin? Padahal kan kalau dilihat sekilas, Taiwan itu cuma pulau kecil.”
Ternyata jawabannya nggak sesederhana karena gengsi atau ego politik, tapi berkaitan dengan sejarah yang panjang dan kepentingan nasional, posisi strategis Taiwan, serta visi besar China sebagai kekuatan dunia. Nah, tiga alasan inilah yang membuat China begitu mempertahankan Taiwan.
Masalah Sejarah dan Identitas Nasional: “Hanya Ada Satu China”
Akar masalahnya dimulai dari Perang Saudara Tiongkok pada tahun 1949. Setelah Partai Komunis menang dan mendirikan Republik Rakyat Tiongkok (People’s Republic of China/PRC) di Beijing, pemerintahan Republik Tiongkok (Republic of China/ROC) yang dipimpin oleh Chiang Kai-Shek mundur ke Taiwan dan mendirikan pemerintahan baru di Taipei. Sejak saat itulah, muncul dua pemerintahan yang sama-sama mengklaim diri mereka sebagai “China yang sah”.
Untuk menegaskan legitimasi politiknya, Beijing merumuskan One-China Policy yang menyatakan bahwa “China hanya ada satu, dan Taiwan adalah bagian dari China.”
Kebijakan ini semakin kuat setelah Resolusi PBB 2758 (1971) yang menyatakan bahwa PRC adalah satu-satunya perwakilan resmi China di PBB. Lalu pada tahun 1979, Amerika Serikat dan China menandatangani Joint Communiqué yang juga mengakui prinsip One-China ini.
Bagi China, Taiwan bukan cuma wilayah biasa. Dalam narasi resmi pemerintahan China, Taiwan adalah “provinsi yang hilang” sejak Perang Saudara, bukan negara yang terpisah. Karena itu, melepas Taiwan dianggap sama saja dengan merusak kedaulatan dan integritas wilayah mereka.
Dalam logika politik China, kalau satu wilayah bisa lepas, maka wilayah lain pasti bisa mengikuti. Hal ini sangat berbahaya karena China punya beberapa daerah sensitif lain seperti Xinjiang dan Tibet.
Makanya, China selalu memasukkan isu Taiwan sebagai prioritas utama kebijakan luar negerinya. Dalam perspektif realisme, negara selalu ingin bertahan hidup, menjaga keamanan, dan mempertahankan kekuasaan mereka. China bertindak sebagai negara rasional yang ingin mempertahankan kekuatan dan keamanan nasional mereka.
Seperti kata Kenneth Waltz, negara dalam sistem internasional yang anarkis akan selalu fokus untuk mempertahankan diri dari ancaman, termasuk ancaman kehilangan wilayah. Jadi bagi China, Taiwan itu bukan cuma pulau, tapi Taiwan adalah bagian dari China dan simbol keutuhan nasional mereka.
Posisi Strategis Taiwan: Penting bagi Keamanan China
Ada alasan geografis yang nggak kalah penting bagi China, karena ternyata Taiwan itu terletak di wilayah yang sangat strategis di Asia Timur. Tepatnya di barisan yang disebut sebagai “First Island Chain”.
Bagi China, rantai pulau ini sangat penting karena menjadi “pagar depan” bagi keamanan militer mereka. Kalian bisa bayangin kan kalau Taiwan jatuh ke tangan negara lain misalnya, Amerika Serikat, bagaimana tuh jadinya? China pasti kuatir banget bakal semakin kesulitan menjaga keamanan maritim mereka.
Inilah kenapa Beijing nggak cuma pakai jalur diplomasi saja untuk menekan Taiwan, tapi juga memperkuat kehadiran militer mereka di sekitar Selat Taiwan. Dari latihan militer, patroli, sampai penegasan diplomatik, semua dilakukan untuk menjaga posisi strategis tersebut sebagai upaya menjaga dominasi regional serta mencegah adanya campur tangan dari negara lain.
Reunifikasi: Bagian dari Proyek Besar Xi Jinping
Pada era kepemimpinan Xi Jinping, isu Taiwan bukan hanya masalah sejarah atau tentang politik luar negeri saja, tapi sudah menjadi bagian dari visi besar negara yaitu “The Great Rejuvenation of the Chinese Nation”.
China punya mimpi besar untuk bangkit kembali sebagai kekuatan besar dunia, dan dalam visi itu Taiwan adalah komponen yang penting dan reunifikasi dengan Taiwan menjadi syarat utamanya. Artinya, apabila Taiwan tidak kembali dan bahkan ingin merdeka, proyek kebangkitan nasional ini dianggap belum lengkap atau bahkan gagal.
Karena itu, China selalu memastikan bahwa negara manapun yang mau bekerja sama dengannya harus memutus hubungan diplomatik dengan Taiwan. Hal ini membuat Taiwan semakin terisolasi, mereka tidak bisa masuk ke dalam organisasi internasional seperti PBB atau WHO, bahkan mereka tidak bisa punya hubungan resmi dengan sebagian besar negara-negara di dunia.
Reunifikasi dengan Taiwan ini dipandang sebagai misi sejarah yang harus diselesaikan. Bahkan dalam berbagai pidato resminya, Xi Jinping berulang kali menyebut bahwa reunifikasi dengan Taiwan itu sebagai suatu keharusan, bukan pilihan. Karena itulah melepaskan Taiwan secara sukarela hampir tidak mungkin terjadi dalam logika politik China.
Jadi, isu China-Taiwan ini tuh jauh lebih kompleks daripada sekedar “pulau kecil yang bisa dilepas atau nggak.” Ada sejarah panjang yang belum selesai, keamanan yang harus dijaga, dan ada ambisi besar yang sedang China kejar. Setelah tau semuanya, kita jadi ngerti bahwa alasan China mempertahankan Taiwan bukanlah hal yang sepele. Nah, kalau menurut kalian sendiri bagaimana?
Haura Zia Janna Fatima Siregar,
Mahasiswi Hubungan Internasional
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Comment