Potensi politik ojol semakin besar karena jumlah mereka yang masif. Ribuan hingga jutaan pengemudi ojol tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. Jika buruh pabrik pernah dianggap sebagai “massa kritis” yang bisa menentukan arah perubahan sosial, maka ojol hari ini berpeluang memegang peran serupa.
Lebih jauh lagi, mereka memiliki akses langsung pada denyut nadi masyarakat karena setiap hari bersentuhan dengan beragam lapisan sosial: dari mahasiswa, pekerja kantoran, pedagang, hingga pejabat.
Kesadaran kolektif ojol juga mulai terbentuk. Beberapa kali, kita menyaksikan aksi-aksi protes pengemudi ojol terkait persoalan tarif, regulasi, hingga kebijakan perusahaan aplikasi.
Aksi-aksi ini menunjukkan bahwa ojol tidak hanya pasif menerima kondisi, melainkan berusaha membangun solidaritas dan mengartikulasikan kepentingannya. Dari titik ini, peluang lahirnya diskursus yang lebih luas mengenai keadilan sosial, distribusi ekonomi, dan hak-hak pekerja semakin terbuka.
Namun, di sisi lain, terdapat tantangan besar. Fragmentasi internal, ketergantungan pada perusahaan aplikasi, serta belum adanya wadah representasi yang kuat membuat ojol masih berada pada posisi rapuh. Apakah mereka akan benar-benar menjadi kelas sipil baru yang mampu mengartikulasikan kepentingan publik, atau sekadar tetap menjadi buruh terselubung dalam ekosistem kapitalisme digital, akan sangat ditentukan oleh bagaimana mereka mengelola kesadaran kolektifnya.
Indonesia hari ini membutuhkan ruang publik baru di mana diskursus kritis bisa berkembang.
Ojol, dengan jumlah yang besar, mobilitas yang tinggi, dan kedekatan dengan denyut kehidupan masyarakat, berpotensi menjadi fragmen penting dalam demokrasi kita. Seperti café pada masa Revolusi Prancis, barangkali pangkalan ojol adalah ruang lahirnya wacana baru untuk perubahan kolektif publik di Indonesia.
Penuliis : angga sentosa wijaya