BOGOR, CEKLISSATU - Di Indonesia, wacana tentang masyarakat sipil, sering kali hanya mengacu pada dua kelompok besar: kaum buruh dan kaum intelektual. Buruh dipandang sebagai kekuatan massa yang lahir dari industrialisasi, sedangkan intelektual kerap menjadi motor penggerak ide, kritik, dan strategi perubahan sosial.
Namun, di tengah arus transformasi ekonomi digital, muncul sebuah kelompok baru yang jumlahnya terus membesar dan memiliki posisi unik: ojek online (ojol).
Meskipun secara struktural ojol bisa dikategorikan sebagai buruh karena bergantung pada perusahaan aplikasi, mereka bukanlah buruh dalam pengertian klasik.
Mereka tidak bekerja di dalam ruang produksi tertutup, melainkan hadir setiap hari di jalanan kota, berinteraksi dengan masyarakat luas, dan memiliki tingkat mobilitas yang tinggi. Posisi ini menempatkan mereka dalam ruang sosial yang berbeda dari buruh pabrik atau karyawan kantoran.
Baca Juga: Pulihkan Situasi Kota Bandung, Ratusan Pengemudi Ojol Bersih-Bersih di Sekitar DPRD Jabar
Sejarah menunjukkan bahwa ruang-ruang informal kerap menjadi tempat lahirnya gagasan besar. Pada masa Revolusi Prancis, misalnya, café menjadi arena diskusi yang melahirkan kesadaran kolektif rakyat terhadap ketidakadilan monarki. Kini, fenomena serupa dapat ditemukan pada komunitas ojol.
Pangkalan ojol, warung kopi tempat mereka menunggu order, atau bahkan grup daring menjadi semacam “café baru” yang menampung diskursus sosial. Di situlah mereka berbagi keluh kesah soal tarif, kebijakan pemerintah, hingga isu-isu publik yang lebih luas.