Kepala Bidang Kesenian, Sejarah dan Nilai Budaya Dinas Kebudayaan Syukri, S.Sn menjelaskan bahwa Museum Kereta Api Sawahlunto menjadi salah satu titik yang paling menyita perhatian. Di sinilah lokomotif legendaris Mak Itam berdiri, seolah menunggu untuk kembali menceritakan kisahnya. Langkah kemudian dilanjutkan menuju Masjid Agung Sawahlunto, sebelum akhirnya ditutup di Lobang Kalam—terowongan kereta api yang menjadi saksi bisu lalu lintas batubara menuju pelabuhan.
"Dengan kontribusi Rp30.000,-, peserta mendapatkan lebih dari sekadar fasilitas makan siang dan tiket masuk museum gratis. Mereka memperoleh pengalaman sejarah yang eksklusif, dipandu oleh pemandu kegiatan dan narasumber yang menyampaikan narasi secara hidup dan kontekstual—menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Sawahlunto," katanya.
Baca Juga: Pemkot Targetkan Bogor Jadi Kota Kreatif UNESCO di Tahun 2024
Walking tour ini bukan hanya tentang berjalan kaki, tetapi tentang memahami regulasi Pemajuan Kebudayaan, menyadari pentingnya pelestarian cagar budaya, dan meneguhkan komitmen bersama pasca penetapan Sawahlunto sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO di Baku, Azerbaijan. Setiap langkah menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak cukup hanya dijaga, tetapi harus terus diceritakan, diwariskan, dan dihidupkan kembali.
Di akhir perjalanan, lelah terasa, tetapi cerita tetap tinggal. Rel-rel tua itu tak lagi sunyi. Ia kembali dilalui—oleh langkah, oleh ingatan, dan oleh semangat komunitas yang percaya bahwa sejarah akan tetap hidup selama masih ada yang mau menapakinya.
Ditulis oleh: Syukri - Sawahlunto Creative Forum
Diedit oleh: Robby D5