"Ini akan mengangkat persentase dari pemilahan sampah dari angka 26% kemungkinan ke angka 57%," ungkapnya.
Meski demikian, masih terdapat selisih sekitar 5 persen untuk mencapai target 63,41 persen. Oleh karena itu, pemilahan dari hulu dinilai menjadi kunci utama.
Diaz mengatakan, program pemilahan sampah telah mulai dijalankan sekitar 1,5 bulan terakhir melalui pembagian wadah dan penyediaan compost drop point di lingkungan permukiman. Untuk itu, warga didorong memilah sisa makanan dan limbah dapur untuk kemudian diolah di TPS 3R.

Di fasilitas tersebut, sampah organik diolah menjadi bubur, lalu dicampur dengan molase dan mikroorganisme seperti EM4 untuk dijadikan pakan ternak. Skema ini diharapkan menciptakan ekonomi sirkular sekaligus mengurangi beban sampah.
"Harapannya, pemilahan sampah ini tidak hanya dilakukan di Jakarta Utara, tetapi juga meluas ke seluruh Jakarta dan Indonesia," ucapnya.
Saat ini, kata Diaz dari 31 kelurahan di Jakarta Utara, tujuh di antaranya telah mulai menerapkan pemilahan sampah, dengan Kelurahan Sunter Agung menjadi wilayah dengan pelaksanaan paling masif.
Baca Juga: Belasan Tahun Dibiarkan, Gunungan Sampah 20 Ribu Ton TPS Ilegal di Bekasi Mulai Diangkut
Lebih lanjut, Diaz menekankan pentingnya pemilahan untuk meningkatkan kualitas sampah yang akan diolah di fasilitas seperti RDF dan R-Cell. Tanpa pemilahan, kadar air sampah bisa mencapai 40–50 persen sehingga memerlukan proses tambahan seperti pengeringan yang memakan biaya dan waktu.
"Dengan pemilahan sejak awal, sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan akan lebih siap dan efisien untuk diproses," pungkasnya.