BANDUNG, CEKLISSATU.COM -- Sosok guru ngaji bernama Deni Firmansyah viral di media sosial dan menyita perhatian publik. Tinggal di sebuah gang sempit di kawasan  Abid, Bojong Loa Kaler, Kota Bandung Ustadz Deni dengan tulus mengajar puluhan anak mengaji tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Di tengah keterbatasan ekonomi, pria yang bekerja serabutan ini bahkan tak jarang harus menahan lapar bersama istri dan anaknya. 

Penghasilan yang tak menentu membuat kehidupan keluarganya jauh dari kata layak. Ia bahkan sempat harus berpindah kontrakan karena tak mampu membayar biaya sewa.

Baca Juga: Fokus Mitigasi Bencana, BPBD Kota Bandung Dorong Penguatan Sumur Resapan dan Penghijauan di Titik Rawan

Video viral yang beredar memperlihatkan Ustadz Deni mengajar mengaji di sebuah ruangan sederhana di gang sempit kawasan Bojong Loa Kaler, Bandung, Jawa Barat. Dalam video tersebut, ia terlihat sabar membimbing suatu per satu muridnya meski kondisi hidupnya sendiri serba kekurangan.

Meski tidak memiliki penghasilan tetap dari kegiatan mengajar, Ustadz Deni tetap memilih mengabdikan dirinya untuk mengajar mengaji secara gratis. 

Demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, ia bekerja serabutan, mulai dari memperbaiki atap bocor, mengecat rumah, hingga memasang kanopi.

Baca Juga: Diduga Sopir Mengantuk, Truk Pengangkut Pasir Terguling di Soekarno Hatta Bandung

Namun setelah pekerjaan selesai, Deni selalu kembali ke rutinitas utamanya, yakni mengajar mengaji anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya.

Ustadz Deni mengungkapkan, pada awalnya kegiatan mengaji tersebut sempat menerapkan sistem infak. Namun seiring waktu, hanya segelintir orang tua murid yang mampu berkontribusi. 

"Akhirnya saya  memutuskan untuk menggratiskan seluruh kegiatan mengaji agar anak-anak tetap bisa belajar tanpa terbebani biaya sejak lima bulan ini," kata Ustad Deni, Rabu (4/2/2026).

Baca Juga: Pemkot Bandung Jamin Pasokan Aman dan Harga Pangan Stabil Jelang Ramadan, Farhan: Tidak Ada Gejolak yang Signifikan

Keterbatasan ekonomi juga sempat memaksa guru ngaji di Bandung ini berpindah tempat kontrakan. Ia tak mampu membayar tempat yang sekaligus digunakan sebagai tempat tinggal dan lokasi mengaji bersama keluarganya.

Kisah Ustadz Deni semakin menyentuh saat ia menceritakan kondisi keluarganya yang kerap kali harus menahan lapar akibat penghasilan yang tidak menentu.

Meski hidup dalam keterbatasan, Ustadz Deni tetap menyimpan harapan besar. Ia bercita-cita memiliki madrasah atau pesantren yang layak agar anak-anak di lingkungannya dapat belajar mengaji dengan lebih nyaman dan baik.