“Saya sebenarnya ingin sekali bertemu dengan keluarganya Septiyan, tapi saya tidak tahu rumahnya, alamatnya, atau nomor teleponnya. Kalau bisa, saya ingin bertemu dan berlutut meminta maaf kepada ibunya Septiyan,” tambahnya dengan nada penuh haru.
Ia menjelaskan bahwa tindakan anaknya diduga dilakukan di bawah pengaruh obat-obatan.
Baca Juga: Ini Motif Kasus Pembunuhan seorang Satpam di Rumah Mewah Lawang Gintung
Meski begitu, Farida menekankan bahwa Septiyan dikenal sebagai pribadi yang baik dan sopan.
“Septiyan itu anak yang baik. Dia selalu menyapa saya, mengucapkan ‘selamat pagi’ dan ‘selamat malam’. Itu yang selalu dia ucapkan kepada saya,” tuturnya.

Kejadian ini, menurut Farida, memberikan dampak besar pada dirinya secara emosional.
“Saat saya mengetahui kejadian ini, jantung saya berdebar hebat, hati saya terasa sangat sakit. Saya benar-benar tidak menyangka hal ini bisa terjadi,” ujarnya.
Farida berharap dapat menemukan cara untuk meminta maaf secara langsung kepada keluarga Septiyan.
“Saya sangat ingin bertemu dengan orang tua dan istrinya Septiyan untuk meminta maaf. Saya ingin berlutut di hadapan mereka sebagai ungkapan penyesalan saya,” katanya.
Hingga saat ini, kasus ini masih dalam penanganan pihak berwajib. Sementara itu, Farida terus berusaha mencari cara untuk menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban, meski ia belum mengetahui cara untuk menghubungi mereka.
(Levinda Melati)