TANGERANG SELATAN, CEKLISSATU - Semangat literasi kembali menyapa anak-anak di kawasan Pamulang. Roadshow ke-3 Festival Literasi kali ini dilaksanakan di Taman Baca Masyarakat Pekan Raya (PEKA) Pamulang sebuah ruang anak anak yang berakar dari kolaborasi dan kepedulian terhadap pendidikan anak - anak. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 14.00 hingga 16.30 WIB, dihadiri oleh 26 anak - anak dengan rentang usia 5 - 16 tahun.
Acara ini berkolaborasi dengan Turun Tangan Bogor yang turut menghadirkan suasana penuh tawa dan antusiasme anak-anak melalui beberapa permainan tradisional seperti congklak, bola ekel, egrang batok , gasing bambu, prepet jengkol, hingga oray-orayan. Anak-anak dibagi ke dalam tiga kelompok dan bermain secara bergantian agar semua dapat merasakan keseruan tiap permainan. Keseruan dan semangat kebersamaan mengisi sore halaman TBM PEKA Pamulang yang membuktikan bahwa permainan tradisional masih mampu menjadi jembatan kebahagiaan di era digital.
Baca Juga: Kabekraf dan ACSI Bikin Pengusaha Ekraf Melek Cuan dengan Literasi Keuangan
Suara dari Lapangan Kolaborasi yang Menghidupkan Nilai Literasi
Teh Fitri selaku Koordinator Project Management TBM Bale Baca Cijayanti menyampaikan rasa syukurnya atas terselenggaranya kegiatan ini ,
“Alhamdulillah kegiatan roadshow ke-3 ini berlangsung sangat menyenangkan dan menambah semangat anak-anak di TBM PEKA. Sambutan hangat dari Kang Adang dan istrinya membuat suasana makin akrab. Yang membuat kami senang, kali ini peserta tidak hanya anak-anak TK dan SD, tetapi juga banyak remaja yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan permainan tradisional,” ujar Teh Fitri.
Ia menambahkan, kehadiran para remaja menjadi warna baru dalam kegiatan roadshow. Mereka tidak hanya bermain, tetapi juga membantu adik-adiknya memperagakan permainan yang dulu sering mereka mainkan di masa SD, seperti lompat karet, congklak, dan bola bekel.
“Kami bangga karena mereka tidak malu ikut bermain di taman baca. Justru semangat mereka menunjukkan bahwa permainan tradisional bisa jadi ruang nostalgia sekaligus sarana kebersamaan lintas usia. Harapannya, anak-anak bisa terus memainkan permainan tradisional ini di waktu senggang, bukan hanya bermain lewat gadget,” lanjutnya.
Kang Adang Albani, pendiri sekaligus ketua TBM PEKA Pamulang juga membagikan kisah di balik lahirnya taman baca ini.
Awalnya, PEKA itu wadah ruang apresiasi dan kolaborasi. Kami ingin ada tempat bagi siapa pun untuk mengekspresikan karya lagu, puisi, teater, apa saja. Dari situ kami berpikir, setelah acara selesai, apa langkah selanjutnya? Maka lahirlah TBM PEKA Pamulang sebagai wadah berkelanjutan untuk anak-anak belajar dan membaca,” ungkapnya.
TBM ini juga dikenal aktif di bidang literasi seni, menggabungkan kegiatan membaca dengan ekspresi kreatif seperti menggambar, menulis, dan pertunjukan kecil seni musikalisasi puisi, serta alat musik angklung. Pendekatan ini menjadikan TBM PEKA sebagai ruang yang hidup dan penuh energi positif bagi anak-anak Pamulang.
Makna dan Harapan dari Roadshow
Kang Albani mengapresiasi kegiatan roadshow Festival Literasi yang diselenggarakan oleh TBM Bale Baca Cijayanti yang membawa semangat permainan tradisional ke tengah anak-anak.
Baca Juga: Jaker Bogor Nilai Ruang Terbuka Publik Jadi Kunci Hindari Anak dari Ketergantungan Gadget
“Sekarang permainan kayak gitu udah langka. Tapi lewat kegiatan ini, anak-anak bisa main bareng tanpa HP, tanpa internet. Itu pencapaian besar, karena di situ mereka belajar berinteraksi, berempati, dan mengenal karakter satu sama lain,” ujarnya.
Kegiatan ini bukan hanya bentuk hiburan, tetapi juga menjadi media pembelajaran sosial bagi anak-anak. Melalui permainan tradisional, mereka belajar kerjasama, sportivitas, empati, dan komunikasi tanpa ketergantungan pada gadget.
Ia berharap kolaborasi ini tidak berhenti di satu kegiatan saja. “Mudah-mudahan nanti kita bisa bikin acara bareng-bareng lagi. Biar yang udah terkoneksi bisa terus jalan dan berkembang,” tutupnya.
Roadshow ke-3 Festival Literasi di TBM PEKA Pamulang bukan sekadar kegiatan bermain, melainkan upaya menghidupkan kembali nilai-nilai sosial, budaya, dan kemanusiaan lewat literasi dan permainan tradisional. Dalam setiap tawa anak-anak yang bermain congklak, egrang batok dan oray orayan tersimpan harapan besar agar masa kecil mereka tetap berwarna oleh kebersamaan, bukan layar ponsel.
Comment