BOGOR, CEKLISSATU - Sawahlunto menyambut langkah-langkah kecil yang sarat makna. Sebanyak 70 pegiat walking tour dari berbagai daerah di Sumatra Barat berkumpul di Museum Goedang Ransum. Bukan sekadar berjalan, mereka datang untuk menapak ingatan, menyusuri rel sejarah Kota Sawahlunto—kota yang sejak 6 Juli 2019 diakui dunia sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.
Kegiatan Walking Tour Napak Tilas Jalur Kereta Api Warisan Dunia Sawahlunto ini diinisiasi oleh Komunitas Sumatra Train dan Ikatan Uda Uni Kota Sawahlunto, dengan dukungan Pemerintah Kota Sawahlunto. Di halaman Museum Goedang Ransum, kegiatan resmi dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kota Sawahlunto, Bapak Guspriadi, yang mengajak peserta menjadikan perjalanan ini sebagai bagian dari upaya bersama menjaga cagar budaya dan merawat ingatan kolektif kota tambang tua.
Baca Juga: Rayakan 15 Tahun Pengakuan UNESCO, Jakarta Bakal Gelar Festival Angklung Dunia 2025 di Kota Tua
Langkah pertama dimulai dari dapur besar masa lalu—Museum Goedang Ransum—tempat ribuan pekerja tambang dahulu disuplai tenaga melalui makanan. Dari sini, peserta berjalan menyusuri jejak sejarah menuju Museum Situs Lubang Tambang Batubara Soero, lalu ke Museum Tambang Batubara Ombilin. Setiap langkah terasa seperti membuka halaman demi halaman buku sejarah yang selama ini hanya dibaca, kini dilihat dan dirasakan langsung.
Perjalanan berlanjut melewati Gedung Hotel Khas Ombilin, Gereja Santa Barbara yang menjadi saksi keberagaman, kawasan Pasar Remaja yang hidup dengan denyut ekonomi rakyat, hingga Gedung Pegadaian dan Gedung Pek Sin Kek—penanda pertemuan berbagai etnis dan budaya di Sawahlunto. Di kawasan Taman Silo, peserta sejenak beristirahat, sembari mendengarkan kisah bagaimana sistem industri tambang dan jalur kereta api membentuk wajah kota.
Comment