BOGOR, CEKLISSATU - Seringkali desa dianggap sebagai wilayah yang tertinggal dari kota, padahal sesungguhnya desa menyimpan kekuatan besar untuk membangun bangsa. Pengalaman saya bersama teman-teman KKN di Desa Sukagalih, Megamendung, Bogor, membuat saya semakin yakin bahwa desa bukanlah halaman belakang, melainkan halaman depan bangsa.
Potensi Sukagalih bukan hanya soal tanahnya yang subur atau hasil pertaniannya yang melimpah, tetapi juga ada pada masyarakat yang penuh semangat gotong royong dan anak mudanya yang bergerak. Salah satunya adalah Forum Komunikasi Pemuda Pemudi Cihanjawar (FKP2IC). Organisasi pemuda ini menjadi motor penggerak yang selalu berusaha memberi makna baru pada kegiatan desa, terutama dalam momentum penting seperti peringatan 17 Agustus.
Baca Juga: Babak Baru Pembangunan Bendung Bongas, Harapan Baru bagi Pertanian Kabupaten Bogor
Bersama FKP2IC, kami dari Tim KKN berkolaborasi menjadikan 17-an bukan sekadar lomba, melainkan perayaan yang sarat manfaat. Selain perlombaan membuat tumpeng dan pentas seni, acara itu juga menghadirkan sosialisasi bahaya narkoba dari Kompol Dewi Ayu Iriani, perwakilan BNN. Mengingat ancaman narkoba sudah merambah ke kalangan muda bahkan anak-anak, edukasi ini terasa sangat mendesak. Desa harus menjadi benteng pertama dalam menjaga generasi dari bahaya narkoba, dan langkah ini adalah awal yang baik.
Selain pemuda, kami juga mendapati bahwa petani Sukagalih memiliki peran penting. Melalui penghubungnya, yaitu KuTani, kami berdiskusi bagaimana hasil panen bisa lebih bernilai. Salah satu masukan yang kami berikan adalah terkait inovasi kemasan dengan ukuran lebih kecil agar bisa dipasarkan langsung ke konsumen (direct to customer). Tidak hanya itu, para petani juga didorong untuk lebih melek digital—belajar menggunakan media sosial, membuat konten yang menarik, hingga mengelola akun secara konsisten.
Semua hal ini menunjukkan bahwa pembangunan desa bukan hanya soal fisik, tetapi juga penguatan sumber daya manusianya. Anak muda yang kreatif, petani yang inovatif, dan masyarakat yang peduli adalah kombinasi ideal untuk menjadikan desa mandiri dan maju.
Baca Juga: Proyek Strategis untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi Merata
Desa Sukagalih mengajarkan saya satu hal penting: bangsa ini akan kuat bila desa-desa mampu berdiri tegak, dan desa akan maju bila anak mudanya berani bergerak. Dari Sukagalih, kita belajar bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil—dari tumpeng yang dibuat bersama, dari sosialisasi yang membuka mata, hingga dari petani yang mulai percaya diri memasarkan produknya langsung ke konsumen.
Kini, setelah KKN usai, saya hanya bisa berharap apa yang sudah dirintis bersama tetap berlanjut. Semoga FKP2IC terus menjadi garda terdepan pergerakan pemuda, para petani semakin berdaya dengan inovasi yang dibangun, dan masyarakat tetap menjaga semangat gotong royongnya. KKN boleh berakhir, tetapi api perubahan jangan sampai padam.
InsyaaAllah, apa yang ditanam hari ini akan berbuah esok hari. Desa Sukagalih adalah bukti bahwa masa depan bangsa bisa lahir dari desa.
(Oleh Mahasiswa FISIP Universitas Djuanda: Febrian Batara Aditya Rahman, Maura Najwa Noor Raina Tirta, Refina Nurhazizah, Jestiana Al Kayrani Rahmadhina, Aldair Adam’s Adzie, Reksa Dzul Ikraami Maalikul Mulki, Anggie Septia Lestari, Febriansyah, Lu'lu' Ilmi, Abin Riyan Arifin, Diaz Sya’bania Salim, Rahmadina)
Comment