JAKARTA, CEKLISSATU - Jurnalis Olahraga senior dan pengamat olahraga nasional, H.Tubagus Adi, menyemangati Kontingen Indonesia untuk menambah koleksi medali di ajang Asian Games Aichi Nagoya, Jepang 2026.

Saat ini, Indonesia telah mengoleksi, 3 emas, 5 perak, serta 20 perunggu. Posisi ini di bawah negara Asia Tenggara lainnya, yakni, Thailand, 9 emas, 7 perak, 11 perunggu. Sedangkan Malaysia, 6 emas, 4 perak, 8 perunggu.

Emas ketiga dipersembahkan kembali dari cabang bulutangkis melalui ganda putra, Leo.Roli Carnando dan Daniel Marthin yang mengkandaskan ganda China China Lang Weikeng/Wang Chang dengan rubber game 19-21, 21-13, 21-18.

Meskipun, jumlah atlet Indonesia kalah besar dari Thailand Dengan kekuatan 694 atlet dan lebih banyak dari Malaysia yang berkekuatan 354 atlet.

"Saya berharap ada tambahan medali emas lagi dari panjat tebing yang memulai pertandingan Selasa(29/9) ini hingga, Sabtu (3/10) nanti," paparnya ketika dihubungi via whattsap. Selasa(29/3/2026).

Namun di sisi lain, ia juga mengkritisi agar cabang,cabang olahraga lainnya yang tampil di ajang Asian Games 2026 yang gagal membawa pulang medali untuk segera melakukan evaluasi.

"Bayangkan 35 cabang olahraga dengan jumlah 432 atlet yang berlaga, kita hanya menargetkan 4 emas saja. Dari segi anggaran dengan kondisi efisiensi seperti sekarang ini tentunya sangat besar. Dan cabang olahraga yang belum berhasil menyumbangkan medali seharusnya segera berbenah diri pascaAsian Games kali ini," tandasnya lagi.

Menurut jurnalis yang sudah sekitar 25 tahun lebih meliput seluruh cabang olahraga ini. Saat ini, Kontingen Indonesia hanya mengandalkan beberapa cabang olahraga saja yang dijadikan tambang medali. Diantaranya, bulutangkis, angkat besi, serta panjat tebing.

Sementara, prestasi cabang olahraga lainnya, belum setara dengan cabang olahraga yang sudah membuktikan keperkasaanya di ajang Olimpiade itu.

"Kita tidak bisa hanya mengandalkan ketiga cabang olahraga itu sebagai tambang medali emas. Cabang olahraga lainnya juga diharapkan prestasinya bangkit. Seperti, Teqbal misalnya sudah mulai menampakkan sinarnya dengan meraih perak, selain tentunya diharapkan dari wushu, soft tenis dan lainnya yang juga mulai mampu menyumbang medali. Kedepannya, mereka harus mengasah prestasinya lagi dengan mempersembahkan medali emas," tutur pria yang akrab disapa TB Adi itu.

Dikatakan, Kemenpora pascaAsian Games 2026, harus memanggil cabang cabang.olahraga(cabor) yang gagal membawa pulang medali untuk dilakukan evaluasi.

"Segera lakukan evaluasi sepulangnya dari Jepang. Terutama, bagi cabor-cabor yang gagal. Agar kedepannya, mereka bisa mengukur lagi kemampuannya dan tidak sekedar memberikan masukan 'asal bunyi' saja kepada kemenpora sebelum berangkat ke Asian Games," harap TB Adi

Ia juga menggambarkan pretasi Thailand sebagai salah satu kekuatan olahraga di Asia Tenggara, fokus pada pembinaan atletik dengan prestasi pelari Puripol Boonson yang meraih emas di nomor 100 dan 200 meter putra sekaligus mempertajam rekor Asian Games. Sedangkan Malaysia negara tetangga, meraih emas dari cabang andalannya, seperti, beladiri karate dan e-sport.

"Kita tidak hanya terpaku dan berpuas diri dengan hasil di ajang SEA Games saja. Tapi, jika cabang-cabang olahraga lainnya juga ingin berprestasi di Olimpiade, Aiqn Games merupakan salah satu lompatan menuju prestasi terbaik di dunia," tegas TB Adi.

Di satu sisi, TB Adi mengaku masih adanya dualisme di beberapa cabang olahraga membuatnya prihatin. Pasalnya, akibat dari dualisme ini sangat merugikan bagi atlet dan kelangsungan pembinaan olahraga itu sendiri.

"Dulu ketika saya meliput cabang olahraga di era 90 an dan 2000 an dualisme cabang olahraga tidak ada sama sekali. Kepengurusan cabang olahraga begitu kompak. Saya justru prihatin dengan kondisi saat ini ketika teknologi pembinaan olahraga semakin canggih ditambah dengan banyaknya pakar-pakar olahraga yang mumpuni, malah ada beberapa cabang olahraga yang mengalami dualisme kepemimpinan. Saya berharap, kedepannya agar para stakeholder olahraga di Indonesia lebih mengedepankan kepentingan prestasi olahraga ketimbang berpolitik seperti harapan Menpora Erick Thohir," katanya menutup pembicaraan.