BANDUNG, CEKLISSATU -- Lilie Wijayanti Poegiono, seorang pendaki gunung senior yang meninggal dunia di puncak Gunung Cartenz, ternyata juga hobi memanjat tebing.

Hal tersebut dikatakan pelatih panjat tebing yang tergabung dalam Indonesia Bigwall Expedition (IBEX), Nadya Gianifa, yang sempat melatih mendiang sebelum menaklukkan Gunung berketinggian 4.884 mdpl tersebut.

Nadya mengatakan, perlunya berlatih memanjat tebing sebelum terjun ke gunung yang berada di Papua tersebut. Pasalnya, medan gunung tersebut teramat sulit, sehingga diperlukan kemampuan memanjat tebing.

Sebenernya gak gabung ke komunitas sih, Cuman emang beberapa kali aku ngelatih beliau sebelum ke Kartens, sama emang ternyata kan jadi suka manjat, jadi akhirnya ya beberapa kali manjat.

"Tahun lalu sih sebenarnya beliau mulai manjat kan, karena emang sempat ngobrol buat ke Cartenz, jadi akhirnya manjat," kata Nadya usai berkunjung ke Rumah Duka Nana Rohana, Senin (03/01/2025).

Baca Juga: Pendaki yang Meninggal Dunia di Puncak Carstensz Ternyata Miliki Butik, Begini Sosoknya Dimata Pegawai

Nadya menambahkan, gunung yang berada di Papua, berbeda dengan pegunungan yang berada di Pulau Jawa. Baik dari segi medan, suhu, cuaca juga ketinggian nya.

Seperti ketinggian gunung-gunung di Papua, yang cenderung berada di atas ketinggian 4.000 mdpl. Yang apabila berada di titik tersebut, kemungkinan gejala (Acute Mountain Sickness) dapat terjadi.

"Yang jelas gunung-gunung di Papua, nggak Cartenz doang. Secara medan beda sama gunung-gunung lain di Indonesia. Dari cuacanya, itu beda dari ketinggiannya pun kan khususnya Cartenz dan beberapa gunung lain juga kan lebih tinggi dibandingkan gunung-gunung di Indonesia yang lainnya," terang Nadya. 

"Kalau misalnya di Pulau Pulau lain kan paling cuma 3.000an kalau di sana kan udah ada gunung-gunung 4.000an dan di 4.000an kan sebenarnya kemungkinan AMS sudah mulai bisa terjadi," jelas Nadya.

Disamping ketinggian, Nadya menambahkan, cuaca ekstrim tak menentu seringkali terjadi di kawasan puncak gunung tersebut.

Baca Juga: Seorang Pendaki Meninggal Dunia Jatuh ke Jurang di Gunung Slamet, Berikut Ini Kronologinya

Oleh sebab itu, selain diperlukan pembekalan peralatan tambahan, juga diperlukan pembekalan skill memanjat untuk bisa mendaki sampai puncak Gunung impian para pendaki dunia tersebut.

"Di sana tuh medannya dominannya apalagi yang mau ke puncaknya itu batuan. Jadi emang udah butuh skill manjat, sistem tali-talian itu udah dibutuhin. suhu dan cuacanya kalau di sana emang gak menentu ya. Maksudnya gak menentunya lebih Ekstrim gitu dibandingkan gunung-gunung lain. 

kalau di gunung-gunung lain, paling hujan ya. Kalau di sana kan udah bisa nemu salju ya. Tapi yang bikin sulit itu masih tropis kan Jadi bisa nemu hujan di ketinggian," pungkasnya.