Yulina menambahkan, selanjutnya juga tidak lupa kami membekali remaja-remaja ini dengan penguatan entrepreneurship skills, life skills sehingga mereka dapat memanfaatkan digital media menjadi konten creator. 

Dengan harapan menjadi remaja yang berdaya, tidak hanya memikirkan ingin segera menikah.

Kepala DP3AP2KB Kabupaten Bogor, Sussy Rahayu Agustini menambahkan, selain dari faktor sosial ekonomi, kehamilan di luar nikah juga menjadi alasan terjadinya pernikahan dini. 

Baca Juga: Pemkab Bogor Bersama Kepolisian dan Kejaksaan akan Usut Penyebab Harga Minyak Kita Melebihi HET

Pengetahuan yang rendah mengenai bahaya perilaku seksual dan paparan pergaulan dari teman sebaya meningkatkan kemungkinan remaja melakukan perilaku seks di luar nikah, dan mengakibatkan kehamilan yang mendorong terjadinya perkawinan anak.

"Oleh karena itu, diperlukan desain program pembelajaran yang bertujuan untuk mempersiapkan generasi muda secara matang sebelum mereka memutuskan untuk menikah di usia muda, khususnya bagi anak di Kabupaten Bogor,” kata Sussy.

Sussy menerangkan, melalui sekolah pranikah ini Pemkab Bogor ingin membentuk generasi muda secara matang, sebelum memutuskan menikah di usia dini. Mengurangi angka pernikahan di usia dini, menambah pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan seksual.

Baca Juga: Rakor Penyelenggaraan Pemerintah Desa 2025, Pemkab Bogor Dorong Desa Jadi Lebih Maju dan Mandiri

“Terbentuknya anak sebagai agen perubahan (agent of change) yang dapat menjadi agen penggerak bagi teman sebayanya untuk meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan keluarga,” terang Sussy.